Ribuan Warga Hadiri Maulid Nabi di Sindangheula, Tradisi Panjang Mulud Tetap Terjaga

SERANG, TirtaNews — Ribuan warga memadati kawasan Masjid Al-Hidayah di Kampung Kepuh, Desa Sindangheula, Kecamatan Pabuaran, Kabupaten Serang, Banten, Ahad, 23 Agustus 2026. Mereka menghadiri peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW yang digelar masyarakat setempat.
Sejak pagi, warga dari berbagai wilayah berdatangan mengikuti rangkaian peringatan kelahiran Nabi Muhammad SAW. Suasana semakin meriah dengan hadirnya ratusan panjang mulud yang ditempatkan di sekitar masjid.
Tradisi panjang mulud menjadi bagian yang tak terpisahkan dari peringatan Maulid Nabi di Kampung Kepuh. Warga membuat beragam bentuk kreasi, antara lain replika perahu, kapal, mobil, serta bentuk lainnya. Tradisi itu bukan hanya menjadi hiasan perayaan, tetapi juga ruang bagi warga untuk memperkuat kebersamaan.
Kepala Desa Sindangheula, Suheli, mengatakan tradisi tersebut merupakan bagian dari kebudayaan masyarakat yang terus dipertahankan. Ia mengapresiasi warga Kampung Kepuh yang tetap antusias menyelenggarakan peringatan Maulid Nabi.
“Saya sangat mengapresiasi masyarakat Kampung Kepuh, Desa Sindangheula, yang telah melaksanakan Maulid Nabi Muhammad SAW,” kata Suheli.
Menurut dia, masyarakat Sindangheula memiliki tradisi menghadirkan panjang-panjang mulud dalam setiap peringatan Maulid Nabi. Bentuknya terus berkembang mengikuti kreativitas warga, mulai dari perahu, kapal-kapalan, mobil-mobilan hingga berbagai kreasi lainnya.
Suheli menilai tradisi tersebut tidak semata-mata berkaitan dengan kemeriahan acara. Panjang mulud menjadi bagian dari cara masyarakat mengagungkan kelahiran Rasulullah sekaligus menjaga warisan budaya lokal.
“Tentu ini semata-mata untuk mengagungkan kelahiran Rasulullah SAW. Budaya seperti ini harus tetap kita pertahankan untuk anak cucu kita,” ujarnya.
Ia berharap tradisi panjang mulud tetap hidup dan diwariskan kepada generasi muda sehingga peringatan Maulid Nabi di Sindangheula tidak kehilangan akar budayanya.
“Sehingga setiap Maulid Nabi bisa terus menghadirkan tradisi seperti ini,” kata Suheli.
Bagi warga Kampung Kepuh, perayaan Maulid Nabi akhirnya menjadi pertemuan antara nilai keagamaan dan tradisi masyarakat. Ribuan warga berkumpul, sementara panjang mulud menjadi penanda bahwa warisan budaya lokal masih bertahan di tengah perubahan zaman. (Sarman/Red)
