Rumah Bocor dan Roboh Diganti Hunian Layak, Tiga Warga Pandeglang Terima Bantuan RTLH

PANDEGLANG, TirtaNews — Solehuddin, 54 tahun, selama bertahun-tahun tinggal bersama keempat anaknya di sebuah rumah sederhana di Kampung Garokgeg, Desa Cempaka, Kecamatan Kaduhejo, Kabupaten Pandeglang. Ketika musim panas datang, rumah itu terasa menyengat. Saat hujan turun, air masuk dari atap yang bocor.
Kini, kondisi itu berubah setelah rumah Solehuddin mendapat bantuan renovasi Rumah Tidak Layak Huni atau RTLH dari Pemerintah Provinsi Banten.
“Selama ini kami tinggal di rumah ala kadarnya. Kalau panas kepanasan, kalau pas hujan bocor,” kata Solehuddin, Rabu, 2 September 2026.
Solehuddin mengaku tak menyangka rumahnya yang berada di kawasan pelosok desa mendapat perhatian pemerintah. Sebagai guru mengaji, ia harus membagi penghasilannya untuk memenuhi kebutuhan keluarga sekaligus membiayai pendidikan anak-anaknya.
“Terima kasih, Pak Gubernur Andra Soni,” ujarnya.
Bantuan serupa diterima Leli Nurhayati, 34 tahun, warga Kampung Pacurendang, Desa Mandalasari, Kecamatan Kaduhejo. Rumah warisan orang tuanya yang selama ini ditempati bersama keluarga sempat roboh karena kondisinya yang semakin rapuh.
Sebelum roboh, kata Leli, bagian atap rumahnya sudah banyak mengalami kerusakan. Ketika hujan turun, air kerap masuk ke dalam rumah.
“Gentingnya sudah banyak yang jatuh, sehingga kalau hujan sering bocor,” kata ibu dua anak itu.
Leli mengaku kesulitan memperbaiki rumah karena pendapatan suaminya yang bekerja sebagai kuli sapu hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Di lokasi lain, bantuan RTLH juga diterima Rini Andriyani, 39 tahun, warga Kampung Kaduhejo, Desa Sukasari. Perempuan yang bekerja sebagai buruh cuci itu harus menghidupi seorang anak sekaligus merawat ayahnya yang mengalami strok ringan.
Rini sebelumnya mengaku tidak memiliki kemampuan untuk memperbaiki kondisi rumahnya.
“Alhamdulillah. Terima kasih, Pak Gubernur Andra Soni,” kata Rini.
Gubernur Banten Andra Soni mengatakan program renovasi rumah tidak layak huni merupakan salah satu program pemerintah daerah yang ditujukan untuk memberikan dampak langsung kepada masyarakat.
Menurut dia, program tersebut juga lahir dari berbagai masukan yang disampaikan masyarakat, mulai dari tokoh lingkungan, ketua RW, hingga kalangan pemuda.
“Ke depan, program seperti ini tentu akan terus kita tingkatkan secara berkelanjutan, baik oleh Pemprov Banten, pemerintah kabupaten/kota, maupun pemangku kepentingan lainnya,” kata Andra.
Ia berharap bantuan perumahan tersebut dapat membantu meningkatkan taraf hidup masyarakat, terutama keluarga yang berada dalam kondisi ekonomi paling rentan.
Kepala Dinas Perumahan Rakyat dan Kawasan Permukiman atau DPRKP Provinsi Banten Rahmat Rogianto mengatakan program RTLH menyasar masyarakat yang berada pada kelompok desil 1 hingga desil 4. Prioritas utama diberikan kepada warga yang masuk kategori desil 1 dan 2 atau kelompok masyarakat miskin ekstrem.
“Program ini memprioritaskan masyarakat yang masuk kategori miskin ekstrem,” kata Rahmat.
Pemerintah Provinsi Banten menargetkan sebanyak 87 keluarga menerima bantuan RTLH sepanjang 2026. Sebanyak 21 penerima manfaat berada di Kabupaten Pandeglang.
Bantuan tersebut tidak sekadar berupa perbaikan sebagian bangunan. Rumah penerima manfaat direnovasi menjadi hunian berukuran 36 meter persegi dengan dua kamar tidur, ruang tamu, serta fasilitas mandi, cuci, dan kakus yang dilengkapi akses air bersih.
Rahmat mengatakan pembangunan rumah menggunakan konsep modular dengan komponen yang telah terstandarisasi agar proses pembangunan dapat dilakukan lebih efisien.
Bagi Solehuddin, Leli, dan Rini, rumah baru itu lebih dari sekadar bangunan. Setelah bertahun-tahun hidup dengan atap bocor, bangunan rapuh, dan keterbatasan biaya, bantuan tersebut memberi mereka ruang yang lebih aman untuk menjalani kehidupan bersama keluarga. (Ries/Red)
