Hasan Gaido: Wisata Halal Bisa Jadi Mesin Pertumbuhan Ekonomi

JAKARTA, TirtaNews.co.id – Wisata halal dinilai berpeluang mendorong pertumbuhan ekonomi Indonesia melalui pengembangan usaha, investasi, dan penciptaan lapangan kerja. Namun, potensi tersebut membutuhkan kolaborasi pemerintah, dunia usaha, akademisi, dan masyarakat.
Gagasan itu disampaikan Founder dan CEO Gaido Group, Muhammad Hasan Gaido, dalam talkshow bertajuk Halal Tourism Made Easy: Creating Choice, Comfort & Business Opportunities pada Jakarta Wonderful Indonesia Tourism Fair (WITF) 2026 di JIExpo Kemayoran, Jakarta, Sabtu, 17 Oktober 2026.
Hasan memperkenalkan konsep “ABG Cantik”, singkatan dari Akademisi, Business, Government, dan Community. Menurut dia, keempat unsur tersebut perlu bekerja bersama untuk membangun ekosistem pariwisata yang kompetitif dan memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat.
“Akademisi berperan dalam penelitian, literasi, dan edukasi. Pemerintah menghadirkan regulasi yang memudahkan, pengusaha membangun ekosistem bisnis yang berkelanjutan, sedangkan komunitas menjadi katalisator yang menghubungkan berbagai pemangku kepentingan,” kata Hasan.
WITF 2026 berlangsung pada 15–17 Oktober 2026. Ajang perdagangan pariwisata internasional yang diselenggarakan melalui kolaborasi Gabungan Industri Pariwisata Indonesia (GIPI), Kementerian Pariwisata, dan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta itu mempertemukan pelaku industri nasional dengan pembeli internasional. Penyelenggara memperkirakan sekitar 250 pembeli dari 45 negara hadir dalam kegiatan tersebut.
Dalam talkshow yang dipandu Rianovel Mare dari DinarStandard, Hasan menekankan bahwa wisata halal tidak semestinya dipandang sebatas segmentasi pasar wisatawan Muslim. Pengembangannya, kata dia, dapat melibatkan hotel, restoran, biro perjalanan, transportasi, usaha mikro, kecil, dan menengah, hingga sektor logistik serta keuangan syariah.
Ia menyebut tiga aspek penting dalam pengembangan wisata halal, yakni pilihan, kenyamanan, dan peluang bisnis. Wisatawan perlu memperoleh pilihan makanan halal, akomodasi, transportasi, dan aktivitas wisata yang beragam. Sementara itu, kualitas pelayanan, kebersihan, keamanan, serta fasilitas yang memadai menjadi bagian dari kenyamanan perjalanan.
Adapun peluang bisnis muncul ketika berbagai sektor tersebut saling terhubung. Dengan begitu, perputaran ekonomi pariwisata tidak hanya dinikmati perusahaan besar, tetapi juga pelaku UMKM, tenaga kerja, dan masyarakat di sekitar destinasi.
“Wisata halal harus memudahkan wisatawan sekaligus membuka peluang usaha bagi masyarakat. Ketika berbagai sektor saling terhubung, manfaat ekonomi pariwisata dapat dirasakan lebih luas,” ujarnya.
Hasan juga memaparkan pengalaman Gaido Group dalam mengembangkan usaha berbasis ekonomi syariah dan wisata halal selama lebih dari 23 tahun. Sejumlah unit usaha yang dikembangkan mencakup Gaido Travel & Tours untuk perjalanan umrah, haji khusus, dan wisata halal; Baduy Outbound yang mengangkat potensi wisata dan kearifan lokal Banten; serta Banten Restoran & Katering.
Ekosistem tersebut juga mencakup Gaido Halal Logistics, Santri Mart, dan Gaido Connected melalui platform Gaidoo.id. Menurut Hasan, keterhubungan usaha perjalanan, kuliner, logistik, perdagangan, dan layanan digital dapat memperluas rantai nilai industri wisata halal.
Meski demikian, pengembangan ekosistem tersebut memerlukan dukungan peningkatan kualitas sumber daya manusia, digitalisasi, standar pelayanan, dan kemitraan internasional. Kepastian regulasi juga dinilai penting agar pelaku usaha dapat mengembangkan bisnis secara berkelanjutan.
Forum WITF 2026, menurut Hasan, menjadi kesempatan bagi pelaku pariwisata Indonesia untuk memperluas jejaring dengan mitra luar negeri dan memperkenalkan beragam produk wisata nasional. Kekayaan alam, budaya, kuliner, dan destinasi berbasis komunitas menjadi modal yang dapat dikembangkan untuk menjangkau pasar global.
Ia berharap kolaborasi lintas sektor dapat memperkuat hubungan industri pariwisata dengan sektor ekonomi syariah, termasuk industri makanan halal, UMKM, perdagangan digital, logistik, dan keuangan syariah.
“Wisata halal bukan sekadar tren, tetapi mesin pertumbuhan ekonomi Indonesia. Kuncinya adalah kolaborasi, inovasi, kualitas pelayanan, dan keberpihakan terhadap ekosistem usaha yang mampu menciptakan lapangan kerja serta meningkatkan kesejahteraan masyarakat,” kata Hasan.
Pengembangan wisata halal pada akhirnya tidak hanya bergantung pada promosi destinasi, tetapi juga pada kesiapan layanan dan kemampuan pelaku industri membangun kemitraan. Kolaborasi tersebut menjadi salah satu pendekatan untuk mendorong pariwisata yang lebih inklusif dan memperluas manfaat ekonomi bagi masyarakat. (Az/Red)
