Bedolan Pamarayan Kembali Digelar, Bupati Serang Ingatkan Risiko Keselamatan

0
Bedolan Pamarayan Kembali Digelar, Bupati Serang Ingatkan Risiko Keselamatan
Views: 3

SERANG, TirtaNews.co.id – Ribuan warga memadati kawasan Bendungan Pamarayan, Kabupaten Serang, Banten, Sabtu, 17 Oktober 2026, untuk mengikuti tradisi Bedolan Pamarayan. Bupati Serang Ratu Rachmatuzakiyah yang membuka kegiatan itu mengingatkan warga agar tidak mengabaikan keselamatan demi menangkap ikan.

“Tidak ada ikan yang berharga kecuali keselamatan jiwa. Jangan gara-gara cuma ikan satu kilo, keselamatan jiwa diabaikan,” kata Ratu Zakiyah seusai membuka kegiatan.

Bedolan Pamarayan merupakan tradisi turun-temurun yang telah dikenal sejak zaman kolonial. Kegiatan ini sempat terhenti selama beberapa tahun dan kembali digelar setelah masyarakat mengusulkan pelaksanaannya. Salah satu agenda yang paling dinantikan adalah menangkap ikan secara massal ketika aliran sungai dikeringkan sementara.

Pemerintah Kabupaten Serang berkoordinasi dengan Balai Besar Wilayah Sungai Cidanau, Ciujung, Cidurian (BBWSC3) dan sejumlah instansi untuk mengantisipasi risiko selama kegiatan berlangsung. Potensi bahaya yang menjadi perhatian antara lain derasnya aliran air dan kemungkinan longsor di sekitar sungai.

Ratu mengatakan pemerintah telah meminta bantuan personel Polisi Air, Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (Basarnas), serta Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) untuk mengawasi kawasan bendungan dan menjaga kondisi tetap kondusif.

Ia juga meminta warga mengawasi anak-anak yang ikut menyaksikan atau mengikuti tradisi tersebut. Menurut dia, antusiasme masyarakat perlu diimbangi dengan kewaspadaan agar kegiatan tidak berujung pada kecelakaan.

“Silakan menikmati kegiatan ini dan mengambil keberkahannya. Yang lebih penting adalah menjaga keselamatan,” ujarnya.

Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Kabupaten Serang, Suhardjo, mengatakan Bedolan Pamarayan juga berkaitan dengan pemeriksaan kondisi bangunan bendungan dan pengaturan pintu air. Karena itu, kegiatan tersebut tidak semata-mata menjadi agenda tradisi masyarakat, tetapi juga bagian dari perhatian terhadap infrastruktur pengairan.

Menurut Suhardjo, pembukaan pintu air berlangsung selama tiga jam, mulai pukul 10.00 hingga 13.00 WIB. Pintu yang dibuka adalah pintu timur, yang berkaitan dengan wilayah Pamarayan, Bandung, Kibin, Tanara, dan Carenang.

Ia memperkirakan perubahan aliran air tidak akan mengganggu masa panen. Namun, kondisi aliran diperkirakan membutuhkan waktu lima hingga tujuh hari untuk kembali normal setelah kegiatan selesai.

“Untuk pemulihannya butuh waktu lima sampai tujuh hari. Setelah itu aliran kembali normal sehingga dampaknya diharapkan bisa diminimalkan,” kata Suhardjo.

Pemerintah Kabupaten Serang akan mengevaluasi pelaksanaan Bedolan Pamarayan tahun ini sebelum memutuskan kelanjutan kegiatan serupa pada tahun mendatang. Evaluasi diperlukan untuk menilai manfaat kegiatan sekaligus mengidentifikasi potensi risiko bagi masyarakat dan sektor pertanian.

Suhardjo menyebut pelaksanaan sebelumnya berlangsung pada 2019, ketika ia masih menjabat di Dinas Perikanan. Setelah itu, kegiatan tidak kembali dilaksanakan hingga tahun ini.

Meski pelaksanaan tradisi dapat dievaluasi, pemeriksaan bangunan bendungan tetap menjadi perhatian pemerintah. Pemeriksaan tersebut diperlukan untuk memastikan kondisi infrastruktur pengairan tetap terjaga.

Kembalinya Bedolan Pamarayan memperlihatkan kuatnya antusiasme masyarakat dalam mempertahankan tradisi lokal. Namun, keberlanjutan kegiatan itu akan bergantung pada hasil evaluasi, kesiapan pengamanan, serta kemampuan penyelenggara mengendalikan risiko bagi warga. (Yuli/Red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *