Gubernur Banten Tawarkan Kerja Sama SDM kepada Prefektur Mie Jepang

0
Gubernur Banten Tawarkan Kerja Sama SDM kepada Prefektur Mie Jepang
Views: 4

TANGSEL, TirtaNews – Pemerintah Provinsi Banten melanjutkan penjajakan kerja sama dengan Prefektur Mie, Jepang, dengan menitikberatkan pada pengembangan sumber daya manusia dan peluang investasi. Komitmen itu mengemuka dalam pertemuan Gubernur Banten Andra Soni dengan delegasi Parlemen Prefektur Mie di Kantor Gubernur Banten, Serpong Utara, Kota Tangerang Selatan, Senin, 3 Agustus 2026.

‎Delegasi Jepang dipimpin Ketua Parlemen Prefektur Mie, Mr. Inagaki. Kunjungan tersebut merupakan yang kedua setelah pertemuan perdana pada Mei 2025. Dalam pertemuan itu, kedua pihak membahas kelanjutan kerja sama yang diarahkan pada peningkatan kualitas tenaga kerja serta pembukaan peluang investasi.

‎”Hari ini menerima kunjungan kedua Parlemen Mie Jepang. Banyak hal yang kita diskusikan. Salah satunya terus menjajaki kerja sama antara Provinsi Banten dengan Prefektur Mie. Fokus utamanya adalah kepada sumber daya manusia,” kata Andra Soni.

‎Usai pertemuan, gubernur mengajak rombongan meninjau fasilitas pelatihan di Balai Latihan Kerja Industri (BLKI) Provinsi Banten. Pemerintah daerah berharap keberadaan fasilitas tersebut menjadi salah satu daya tarik bagi investor Jepang untuk menanamkan modal di Banten.

‎Menurut Andra, pemerintah juga tengah menyiapkan langkah menuju hubungan sister province dengan sejumlah daerah di luar negeri, termasuk Prefektur Mie. Pemprov Banten, kata dia, telah menyiapkan kantor promosi investasi sebagai bagian dari upaya menarik investasi yang sejalan dengan kebijakan hilirisasi industri pemerintah pusat.

‎Kepala Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Banten, Virgojanti, mengatakan delegasi Prefektur Mie memberikan respons positif terhadap hasil pertemuan sebelumnya. Pembahasan kali ini tetap difokuskan pada pengembangan tenaga kerja yang sesuai dengan kebutuhan industri.

‎Sementara itu, Kepala Dinas Tenaga Kerja Banten, Septo Kalnadi, menilai tantangan utama tenaga kerja Indonesia yang akan bekerja di Jepang tidak hanya menyangkut keterampilan teknis, tetapi juga kesiapan budaya kerja dan kemampuan berbahasa.

‎Ia mengatakan Pemprov Banten memiliki balai pelatihan kerja di Kabupaten Pandeglang dengan lahan yang lebih luas sehingga dapat dikembangkan menjadi pusat pelatihan berbasis kebutuhan industri Jepang. Menurut Septo, pembekalan mengenai keterampilan, disiplin, serta pembiasaan budaya kerja telah menjadi bagian dari pelatihan sebelum tenaga kerja diberangkatkan ke Jepang. (Aep/Red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *