Menjelang Usia 95 Tahun, Pesantren Santi Asmoro Dijajaki Jadi Destinasi Wisata Halal Edukasi

MAJALENGKA, TirtaNews.co.id — Pondok Pesantren Santi Asmoro di Kabupaten Majalengka tengah menyiapkan babak baru dalam perjalanan panjangnya. Menjelang usia ke-95 tahun pada April 2027, pesantren yang didirikan ulama dan pejuang nasional KH Abdul Halim itu dijajaki untuk dikembangkan sebagai destinasi wisata halal berbasis pendidikan, sejarah, dan pemberdayaan ekonomi umat.
Gagasan tersebut mengemuka dalam kunjungan tokoh pariwisata dan Founder sekaligus CEO Gaido Group, Muhammad Hasan Gaido, ke Pondok Pesantren Santi Asmoro sekaligus dalam rangka memperingati Hari Santri Nasional, Sabtu, 31 Oktober 2026.
Kunjungan itu mempertemukan pengelola pesantren dengan sejumlah praktisi pariwisata untuk menjajaki kemungkinan membangun ekosistem wisata yang memadukan pendidikan pesantren, sejarah perjuangan ulama, kebudayaan, pertanian, hingga ekonomi syariah.
Momentum kunjungan itu juga berlangsung tidak lama setelah peringatan Hari Santri Nasional pada 22 Oktober. Gagasan pengembangan Santi Asmoro dinilai sejalan dengan semangat memperkuat peran pesantren, tidak hanya sebagai pusat pendidikan keagamaan, tetapi juga sebagai ruang pelestarian sejarah dan pemberdayaan masyarakat.
Pondok Pesantren Santi Asmoro didirikan KH Abdul Halim pada 3 April 1932. Dalam hampir satu abad perjalanan, pesantren tersebut menjadi bagian dari jejak pendidikan Islam dan sejarah perjuangan ulama di Majalengka.
KH Abdul Halim dikenal sebagai ulama yang memiliki keterkaitan dengan jaringan keilmuan sejumlah tokoh Nusantara hingga Timur Tengah. Dalam perjalanan keilmuannya, ia disebut memiliki hubungan dengan sejumlah ulama, di antaranya Kiai Suja’i dari Cirebon, Kiai Sobari yang memiliki hubungan keilmuan dengan Syaikhona Kholil Bangkalan, serta sejumlah ulama di Makkah, termasuk Syaikh Ahmad Khatib Al-Minangkabawi.
Dalam perjalanan perjuangannya, KH Abdul Halim juga memiliki hubungan dengan tokoh-tokoh pergerakan Islam, seperti KH Mas Mansur dan KH Abdul Wahab Hasbullah.
Kini, kepemimpinan Pondok Pesantren Santi Asmoro diteruskan generasi berikutnya. KH Asep Zaki Mulyanto, M.KM, dipercaya menjadi Mudir Ma’had atau pimpinan pesantren.
Kehadiran Muhammad Hasan Gaido dalam kunjungan tersebut diinisiasi Hariyanto, pejabat senior Kementerian Pariwisata yang telah mengabdi selama 37 tahun. Sebagai putra Majalengka, Hariyanto mendorong agar potensi sejarah dan lingkungan pesantren dapat dikembangkan menjadi bagian dari destinasi wisata halal di daerah tersebut.
Dalam pertemuan itu, rombongan berdialog mengenai peluang pengembangan Santi Asmoro sebagai destinasi wisata halal edukasi. Pengembangan tersebut diharapkan tidak mengubah karakter utama pesantren sebagai lembaga pendidikan, melainkan memperluas manfaat dan memperkenalkan warisan sejarahnya kepada masyarakat.
Muhammad Hasan Gaido mengatakan pesantren memiliki modal sosial dan sejarah yang kuat untuk dikembangkan dalam ekosistem ekonomi umat.
“Pesantren memiliki potensi besar untuk menjadi pusat peradaban sekaligus pusat pertumbuhan ekonomi umat. Kita ingin mengembangkan kolaborasi yang menjadikan sejarah, pendidikan, dakwah, pariwisata, dan kewirausahaan sebagai satu kesatuan ekosistem yang saling menguatkan,” kata Muhammad Hasan Gaido dalam gagasan yang disampaikan pada pertemuan tersebut.
Kolaborasi yang dijajaki antara lain melalui Gaido Travel, perusahaan di bawah PT Gaido Azza Darussalam Indonesia. Perusahaan itu diharapkan dapat mendukung penyusunan paket wisata edukasi pesantren, wisata sejarah perjuangan ulama, serta pengembangan wisata halal.
Selain itu, peluang kerja sama juga diarahkan pada program perjalanan umrah dan haji khusus bagi keluarga besar pesantren dan masyarakat.
Dalam kunjungan tersebut, rombongan meninjau sejumlah fasilitas yang menjadi modal pengembangan kawasan. Di antaranya ruang pendidikan dan asrama santri, museum sejarah dan perjuangan pendiri pesantren, guest house, sektor pertanian dan perikanan, serta lahan terbuka hijau sekitar lima hektare.
Pesantren juga memiliki lapangan futsal dan fasilitas olahraga yang digunakan untuk aktivitas santri dan masyarakat.
Menurut para peserta pertemuan, berbagai fasilitas tersebut dapat menjadi bagian dari konsep wisata pesantren yang menawarkan pengalaman belajar langsung. Pengunjung tidak hanya datang untuk melihat bangunan atau kawasan, tetapi juga mengenal sejarah perjuangan ulama, kehidupan pesantren, kebudayaan lokal, pertanian, hingga kewirausahaan berbasis syariah.
Rombongan kemudian mengakhiri kunjungan dengan santap siang bersama menikmati hidangan khas Sunda.
Dalam pertemuan tersebut, Muhammad Hasan Gaido didampingi Muhammad Ghazi selaku CEO Gaido Travel, Reza yang bergerak dalam pengembangan destinasi desa wisata, serta Irwan, konsultan pariwisata pendidikan bersertifikat internasional.
Dari pihak Pondok Pesantren Santi Asmoro hadir KH Asep Zaki Mulyanto sebagai Mudir Ma’had, Ustaz Lili Solihin, M.Si, selaku Wakil Mudir Bidang Pendidikan, dan Ustaz Riyan sebagai Kepala Bidang Kesantrian.

Menjelang usia 95 tahun pada April 2027, Santi Asmoro menghadapi peluang untuk memperkenalkan identitas baru tanpa meninggalkan akar sejarahnya. Hari Santri Nasional yang baru diperingati menjadi pengingat bahwa pesantren memiliki peran panjang dalam perjalanan bangsa.
Bagi Santi Asmoro, sejarah perjuangan ulama dan pendidikan yang telah diwariskan selama puluhan tahun kini dijajaki untuk dipadukan dengan tantangan baru: membangun kemandirian ekonomi tanpa menghilangkan jati diri pesantren.
Kolaborasi dengan tokoh pariwisata, Gaido Group, dan para praktisi pengembangan destinasi diharapkan menjadi langkah awal untuk mewujudkan model wisata halal edukasi yang bertumpu pada sejarah, pendidikan, dan pemberdayaan masyarakat.
Menuju usia 95 tahun, Pondok Pesantren Santi Asmoro tak hanya bersiap merayakan perjalanan masa lalu. Pesantren itu juga mulai menyiapkan arah baru untuk masa depan. (Az/Red)
