Masjid At-Taqwa Disiapkan Jadi Motor Ekonomi Umat di Banten

Oplus_131072
SERANG, TirtaNews — Kepengurusan FSPP Provinsi Banten untuk Masjid At-Taqwa resmi terbentuk pada 3 April, bertepatan dengan peringatan Hari NKRI. Dalam struktur baru tersebut, Ustadz Ruba’i ditetapkan sebagai ketua untuk periode 2026–2029.
Ketua Presidium FSPP Banten, Fadlullah, mengatakan masjid perlu mengambil peran lebih luas, tidak hanya sebagai tempat ibadah, tetapi juga sebagai pusat penguatan ekonomi umat. Pernyataan itu disampaikan dalam sambutan usai pembentukan kepengurusan di Serang.
Menurut dia, tekanan ekonomi global telah berdampak hingga ke tingkat rumah tangga. Fluktuasi harga energi, gangguan rantai pasok, dan inflasi disebut turut menekan daya beli masyarakat serta memengaruhi kondisi sosial.
“Dalam kondisi seperti ini, masyarakat membutuhkan solusi yang tangguh dan berkelanjutan. Masjid harus hadir sebagai penggerak ekonomi umat,” kata Fadlullah.
Ia menilai periode pasca-Idulfitri menjadi fase krusial. Setelah peningkatan konsumsi selama Ramadan dan Lebaran, banyak keluarga menghadapi tekanan keuangan, yang diperparah oleh ketidakpastian ekonomi global.
Masjid At-Taqwa yang berada di jalur strategis Lingkar Selatan Kota Serang, sekaligus kantor pusat FSPP, diproyeksikan menjadi simpul penguatan jaringan sosial dan ekonomi jamaah.
Fadlullah juga menyoroti kecenderungan menurunnya aktivitas masjid setelah Ramadan. Menurut dia, kondisi tersebut berdampak pada melemahnya ekonomi berbasis komunitas.
“Sepinya masjid berpengaruh langsung pada aktivitas ekonomi jamaah. Kehadiran jamaah adalah modal utama,” ujarnya.
Untuk mengatasi hal itu, pengurus merancang sejumlah program. Di antaranya penguatan salat berjamaah, optimalisasi program Jumat Berkah melalui infak produktif, serta pembentukan lumbung pangan berbasis jamaah.
Selain itu, kegiatan kajian keislaman akan ditingkatkan untuk mendorong etos kerja, kemandirian, dan kejujuran dalam aktivitas ekonomi. Pengurus juga mulai memetakan potensi jamaah guna membangun jejaring usaha berbasis komunitas.
Memasuki bulan Zulkaidah, program padat karya dan pembentukan koperasi masjid direncanakan berjalan. Sementara menjelang Iduladha, potensi ekonomi kurban akan dikonsolidasikan dengan melibatkan peternak lokal.
Fadlullah menyebut langkah ini sebagai transformasi dari “beras ke daging”, yakni penguatan dari ketahanan pangan menuju ekonomi produktif berbasis komunitas. Ia menekankan bahwa seluruh gerakan tersebut bertumpu pada kekuatan iman.
“Ketika iman hidup, masjid hidup. Ketika masjid hidup, ekonomi bergerak,” kata dia.
Ketua DKM Masjid At-Taqwa, Ustadz Ruba’i, berharap masjid dapat menjadi percontohan dalam penguatan peran sosial dan ekonomi umat. Ia juga menekankan pentingnya kolaborasi antar-pengurus masjid.
“Selama ini komunikasi antar-DKM masih minim. Ke depan, kami ingin membangun sinergi agar masjid menjadi pusat kebangkitan peradaban Islam,” ujarnya. (Az/Red)
