Peternak Desak Pemerintah Mitigasi Wabah Flu Babi di Sumut

0
Peternak Desak Pemerintah Mitigasi Wabah Flu Babi di Sumut
Views: 216

MEDAN, TirtaNews — Para peternak babi di Sumatera Utara mendesak pemerintah segera mengambil langkah tegas untuk memitigasi penyebaran virus African Swine Fever (ASF) atau flu babi yang kembali merebak di wilayah itu. Wabah tersebut dinilai telah memukul keras perekonomian peternak dan mengancam ketahanan pangan nasional.

Ketua DPD Persatuan Peternak Babi Indonesia (PPBI) Sumut, Heri Ginting, mengatakan wabah ASF telah menurunkan populasi babi secara signifikan dan menyebabkan kerugian ekonomi bagi peternak hingga 65 persen. “Jika ini tidak segera dimitigasi dan dicegah penularannya, dampaknya akan semakin besar terhadap populasi dan ekonomi peternak,” ujarnya dalam Dialog Kolaborasi PPBI Sumut dengan Pemerintah Pusat dan Daerah di Medan, Selasa, 11 November 2025.

Heri menilai, hingga kini para peternak belum menerima vaksin ASF, padahal vaksinasi menjadi langkah penting untuk mencegah penyebaran penyakit tersebut. Ia berharap pemerintah dapat memberikan perhatian sebagaimana vaksin penyakit mulut dan kuku (PMK) untuk sapi dan domba.
“Mudah-mudahan ke depan vaksin ASF bisa segera tersedia. Mari kita berkolaborasi untuk meningkatkan kesejahteraan peternak,” katanya.

Dalam dialog yang diikuti sekitar 215 peternak, Heri juga mengingatkan sejumlah langkah pencegahan yang dapat dilakukan, seperti menjaga kebersihan kandang dan lingkungan, membatasi keluar-masuk orang ke area ternak, serta mengubur bangkai babi yang mati akibat ASF agar tidak menularkan penyakit.

Selain persoalan wabah, Heri mengajak para peternak menjaga kamtibmas yang kondusif di tengah ujian ekonomi. “Walau kita sedang menghadapi tantangan besar, mari tetap solid dan mendukung program Astacita Presiden dan Wakil Presiden RI,” ujarnya.

Ketua DPP PPBI, Sutrisno Pangaribuan, menambahkan bahwa peternak babi memiliki kontribusi lain yang kerap luput dari perhatian: mengurangi timbunan sampah di perkotaan. “Peternak babi di Medan selama ini mengambil sisa makanan dan limbah rumah tangga sebagai pakan. Mereka berperan penting dalam pengelolaan sampah yang sering menimbulkan bau busuk,” ujarnya.

Sutrisno menilai, pekerjaan peternak babi bukan sekadar membesarkan hewan ternak, tapi juga bagian dari sistem daur ulang alami yang membantu kota mengelola limbah. “Jangan lihat peternaknya, tapi lihat bagaimana mereka memanfaatkan sampah menjadi sesuatu yang bermanfaat,” katanya, disambut tepuk tangan peserta dialog.

Dalam sesi tanya jawab, seorang peternak, Lenta Sumiati Br Hutabarat, menanyakan ciri-ciri babi yang terpapar ASF. Heri menjelaskan, gejalanya antara lain nafsu makan menurun, demam disertai lendir di hidung, bercak merah di kulit, pendarahan pada mulut dan kelamin, kotoran mengeras, serta urin berwarna kuning kecokelatan.

Acara yang berlangsung hangat dan penuh keakraban itu ditutup dengan pembagian paket sembako kepada para peserta.
(David/Red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *