Antrean Truk Mengular di Banten, Solar Jadi Rebutan

0
Antrean Truk Mengular di Banten, Solar Jadi Rebutan
Views: 3

SERANG, TirtaNews Antrean panjang truk untuk mendapatkan bahan bakar minyak jenis solar terjadi di sejumlah stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) di Banten dalam sebulan terakhir. Antrean kendaraan angkutan barang itu paling ramai terlihat pada malam hari.

Antrean terjadi di sejumlah SPBU di Kabupaten Serang dan Kota Cilegon, termasuk SPBU di sepanjang ruas Tol Tangerang-Merak. Di salah satu SPBU, antrean truk disebut mencapai sekitar satu kilometer hingga meluber ke sisi jalan.

Kondisi itu mengganggu arus lalu lintas. Pengendara lain terpaksa memperlambat laju kendaraan karena sebagian badan jalan digunakan truk yang menunggu giliran mengisi solar.

Pengusaha jasa ekspedisi, Hari, menduga lonjakan antrean berkaitan dengan bertambahnya jumlah armada truk yang beroperasi di Banten. Menurut dia, sebagian armada berpindah dari Jawa Barat setelah pemerintah provinsi tersebut menghentikan sementara aktivitas pertambangan batu, pasir, dan tanah di sejumlah wilayah.

“Ini dampak dari keputusan penghentian sementara tambang di Jawa Barat. Armada truk yang biasa beroperasi di sana akhirnya banyak yang pindah ke wilayah Banten,” kata Hari pada Rabu, 9 September 2026.

Menurut Hari, armada tersebut kini banyak beroperasi di Serang Barat, Serang Timur, Kota Cilegon, hingga Kabupaten Lebak. Truk digunakan untuk mengangkut material tambang yang dikirim ke wilayah Jabodetabek, Jawa Barat, hingga Jawa Tengah.

Ia memperkirakan sekitar 2.000 hingga 2.500 dump truck yang sebelumnya beroperasi di sejumlah wilayah Jawa Barat kini beralih ke Banten. Perpindahan itu, kata dia, meningkatkan kebutuhan solar di tengah pasokan yang dinilai belum sebanding dengan permintaan.

“Akibatnya SPBU di Kabupaten Serang, Cilegon maupun SPBU yang ada di Tol Jakarta-Merak setiap malam terjadi antrean. Panjangnya bisa sekitar 300 meter sampai satu kilometer karena kebutuhan solar meningkat,” ujar Hari.

Hari meminta Pertamina Tanjung Gerem di Cilegon dan instansi terkait segera mencari solusi. Menurut dia, antrean solar tidak hanya berdampak terhadap pengusaha angkutan dan sopir, tetapi juga menghambat pengguna jalan.

“Kami berharap Pertamina Tanjung Gerem dan instansi terkait bisa segera mencarikan solusi. Jangan sampai antrean seperti ini terus terjadi karena sangat mengganggu aktivitas dan arus lalu lintas,” katanya.

Keluhan juga disampaikan Wardi, sopir dump truck yang mengangkut pasir teras dari Banten menuju Bogor. Ia mengatakan waktu pengiriman menjadi jauh lebih lama karena harus mengantre untuk mendapatkan solar.

“Saya bisa menghabiskan waktu sampai dua hari dua malam untuk mengirim pasir teras ke Bogor. Waktunya banyak terbuang karena harus antre membeli solar,” kata Wardi.

Menurut Wardi, antrean panjang membuat waktu kerja sopir berkurang dan biaya operasional meningkat. Ia berharap persoalan pasokan solar segera diselesaikan agar distribusi material kembali berjalan normal.

“Kami berharap kondisi ini segera teratasi. Kalau terus seperti ini, yang dirugikan bukan hanya pengusaha, tetapi kami para sopir juga karena waktu habis di jalan dan di SPBU,” ujarnya. (Az/Red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *