Bonnie Triyana: Budaya Riset Jadi Kunci Daya Saing Mahasiswa di Era AI

PANDEGLANG, TirtaNews — Universitas Mathla’ul Anwar (UNMA) Banten berupaya memperkuat budaya riset di lingkungan kampus melalui Workshop Bina Talenta Riset dan Pengembangan bertema Menjadi Mahasiswa Adaptif di Era Kecerdasan Buatan yang digelar di Gedung Serbaguna H.M. Irsyad Djuwaeli, Kamis (30/7).
Kegiatan itu menghadirkan Anggota Komisi X DPR RI Bonnie Triyana sebagai pembicara utama, bersama Rektor UNMA Banten Prof. Andriansyah serta sejumlah akademisi dan praktisi pendidikan. Workshop diarahkan untuk mendorong penguatan budaya riset sekaligus meningkatkan kesiapan mahasiswa menghadapi perkembangan teknologi berbasis kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI).
Rektor UNMA Banten Prof. Andriansyah mengatakan perguruan tinggi perlu memandang AI sebagai instrumen untuk meningkatkan kualitas pembelajaran, penelitian, dan inovasi. Menurut dia, tantangan perguruan tinggi saat ini bukan sekadar menghasilkan lulusan yang menguasai teknologi, melainkan juga memiliki karakter, etika, dan kemampuan berpikir kritis.
”Perguruan tinggi harus membangun ekosistem riset yang kuat agar mahasiswa mampu beradaptasi, kreatif, dan memiliki daya saing di tingkat nasional maupun global,” kata Andriansyah.
Dalam kesempatan itu, Bonnie Triyana menilai penguatan talenta riset menjadi salah satu fondasi penting untuk meningkatkan daya saing Indonesia. Menurut dia, kemajuan teknologi harus diimbangi dengan kemampuan berpikir ilmiah dan budaya riset yang kuat.
Ia mengapresiasi langkah UNMA Banten yang berupaya membangun ekosistem riset di kampus. “Indonesia membutuhkan lebih banyak talenta muda yang menguasai teknologi sekaligus memiliki budaya riset dan kepedulian terhadap persoalan masyarakat,” ujarnya.
Selain Bonnie dan Andriansyah, workshop menghadirkan Dr. Nenden Suciyati Sartika dan praktisi pendidikan Andi Gunawan. Keduanya membahas strategi membentuk mahasiswa yang adaptif, inovatif, serta mampu memanfaatkan AI secara bertanggung jawab untuk mendukung pembelajaran dan penelitian.
Diskusi juga menekankan bahwa pemanfaatan kecerdasan buatan harus tetap berlandaskan integritas akademik. Perguruan tinggi dinilai perlu menyiapkan lulusan yang tidak hanya cakap menggunakan teknologi, tetapi juga memiliki kemampuan analitis, kepemimpinan, serta semangat berinovasi.
Workshop yang berlangsung selama tiga jam itu diikuti mahasiswa dari berbagai program studi. Antusiasme peserta terlihat dari sesi diskusi yang membahas arah pengembangan riset, kebijakan pendidikan tinggi, dan peluang pemanfaatan AI dalam menghasilkan inovasi.
Melalui kegiatan tersebut, UNMA Banten berharap dapat memperkuat kolaborasi antara perguruan tinggi, pemerintah, dan praktisi dalam mencetak peneliti muda yang mampu menjawab tantangan perkembangan teknologi sekaligus berkontribusi bagi pembangunan nasional. (Ridwan/Red)
