HIPMI Kabupaten Serang Soroti Minimnya Inovasi Pengelolaan Sampah

0
HIPMI Kabupaten Serang Soroti Minimnya Inovasi Pengelolaan Sampah
Views: 3

SERANG, TirtaNews — Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) Kabupaten Serang menilai pengelolaan sampah di daerah itu belum bergerak ke arah industri yang memberi nilai ekonomi. Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Serang dinilai perlu memperkuat inovasi dan memanfaatkan teknologi untuk mengubah sampah menjadi sumber ekonomi baru.

Pemerhati lingkungan HIPMI Kabupaten Serang, Idam Farad, mengatakan konsep zero waste tidak semestinya berhenti pada upaya mengurangi timbulan sampah. Menurut dia, sampah harus dipandang sebagai bahan baku yang dapat diolah kembali menjadi produk bernilai.

Zero waste bukan sekadar mengurangi sampah. Intinya bagaimana sampah dimanfaatkan semaksimal mungkin melalui teknologi sehingga memiliki nilai ekonomi,” kata Idam, kepada TirtaNews.co.id, Kamis (27/8/26).

Ia mengatakan teknologi dapat mengubah sampah menjadi bahan baku industri, energi, maupun produk daur ulang. Pengelolaan semacam itu sekaligus membuka peluang investasi dan lapangan pekerjaan.

Karena itu, Idam meminta Pemerintah Kabupaten Serang mengevaluasi pendekatan pengelolaan lingkungan, termasuk kapasitas pejabat yang menangani urusan persampahan.

“Kalau pejabat yang menangani lingkungan tidak melek teknologi dan tidak mampu melahirkan inovasi, bagaimana kita mau membangun sistem zero waste?” ujarnya.

Menurut Idam, pemerintah daerah membutuhkan aparatur yang tidak hanya memahami aspek administratif, tetapi juga perkembangan teknologi lingkungan dan model bisnis ekonomi sirkular. Ia mendorong pemerintah berani mengevaluasi kinerja apabila inovasi pengelolaan sampah tidak berkembang.

Idam juga meminta Pemkab Serang membuka ruang yang lebih besar bagi dunia usaha untuk masuk ke sektor pengelolaan sampah. Teknologi dari sektor swasta, termasuk yang telah diterapkan di berbagai negara dalam konsep circular economy, dinilai dapat menjadi salah satu pilihan.

“Jangan melihat sampah hanya sebagai persoalan lingkungan. Sampah adalah bahan baku ekonomi. Ada nilai industri, investasi, energi, dan lapangan kerja di dalamnya,” kata dia.

Ia menilai pemerintah perlu membangun ekosistem usaha yang menghubungkan masyarakat, pelaku usaha, pengembang teknologi, dan pemerintah. Dengan model tersebut, pengelolaan sampah tidak hanya membebani anggaran daerah, tetapi dapat berkembang menjadi kegiatan ekonomi produktif.

“Yang dibutuhkan sekarang adalah keberanian pemerintah menghadirkan teknologi dan membangun ekosistem usaha dari sampah,” ujarnya.

Idam menegaskan Kabupaten Serang membutuhkan perubahan cara pandang dalam mengelola lingkungan. Persoalan sampah, kata dia, semestinya tidak lagi dilihat semata sebagai masalah kebersihan, melainkan sebagai tantangan sekaligus peluang untuk menciptakan industri baru.

Sorotan HIPMI tersebut menempatkan inovasi teknologi sebagai salah satu kunci. Tanpa perubahan pendekatan, konsep zero waste berisiko berhenti sebagai slogan, sementara potensi ekonomi dari sampah belum sepenuhnya dimanfaatkan. (Yuli/Red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *