Bahasa Saja Tak Cukup, Mahasiswa Mandarin Perlu Jadi Jembatan Indonesia–Tiongkok

MEDAN, TirtaNews — Kemampuan berbahasa Mandarin dinilai tidak lagi cukup untuk menjawab kebutuhan dunia kerja yang semakin global. Mahasiswa bahasa Mandarin didorong memiliki kemampuan komunikasi lintas budaya agar dapat menjadi penghubung antara Indonesia dan Tiongkok.
Pesan itu disampaikan praktisi komunikasi Wendelyn Leo dalam workshop Beyond Translation: How Language, Communication, and Public Speaking Shape Reputation yang diikuti mahasiswa Program Studi Sarjana Terapan Bahasa Mandarin untuk Komunikasi Bisnis dan Profesional Universitas Prima Indonesia (UNPRI) Medan.
Menurut Wendelyn, tantangan utama dalam komunikasi lintas budaya bukan semata-mata perbedaan bahasa, melainkan kemampuan memahami konteks, perspektif, dan ekspektasi dari pihak yang berbeda.
“Dalam dunia profesional, bahasa hanyalah alat. Yang lebih penting adalah bagaimana bahasa digunakan untuk membangun pemahaman, kepercayaan, dan hubungan antara pihak-pihak yang memiliki latar belakang berbeda,” kata Wendelyn dalam keterangan tertulis yang diterima, Selasa, 16 Juni 2026.
Mantan jurnalis yang kini berkarier di bidang komunikasi korporat itu menjelaskan bahwa pilihan kata dan cara penyampaian pesan dapat memengaruhi citra maupun reputasi individu dan organisasi. Dalam workshop tersebut, peserta diajak memahami proses penyusunan strategi komunikasi, mulai dari menentukan pesan utama, mengenali audiens, membaca tren, hingga membangun kepercayaan publik.
Wendelyn menilai mahasiswa bahasa Mandarin memiliki posisi strategis karena berkesempatan memahami dua lingkungan budaya yang berbeda. Karena itu, mereka tidak hanya berperan sebagai penerjemah bahasa.
“Kalian juga bisa menjadi jembatan yang membantu kedua pihak memahami cara berpikir, cara berkomunikasi, dan ekspektasi yang berbeda. Kemampuan itu semakin dibutuhkan di dunia kerja saat ini,” ujarnya.
Sekretaris Program Studi Sarjana Terapan Bahasa Mandarin untuk Komunikasi Bisnis dan Profesional UNPRI, Mei Lisa, mengatakan kegiatan tersebut bertujuan memperkuat kompetensi mahasiswa di luar aspek kebahasaan.
“Bahasa adalah alat, tetapi komunikasi adalah dampaknya. Seseorang bisa fasih berbahasa Mandarin, tetapi tanpa kemampuan komunikasi yang baik, pesan yang disampaikan bisa kurang tepat dan berpotensi menimbulkan miskomunikasi,” kata Mei Lisa.
Ia menambahkan, mahasiswa Mandarin memiliki peran penting sebagai penghubung budaya Indonesia dan Tiongkok yang tidak hanya menerjemahkan bahasa, tetapi juga makna serta cara berpikir guna mendukung komunikasi dan kerja sama lintas budaya. (Husni/Red)
