Andra Soni Contohkan Gerakan Ayah Ambil Rapor Anak

TANGSEL, TirtaNews — Gubernur Banten Andra Soni mendampingi putranya mengambil rapor di Sekolah High/Scope Indonesia Bintaro, Kota Tangerang Selatan, Kamis, 18 Juni 2026. Kehadirannya merupakan bentuk dukungan terhadap Gerakan Ayah Mengambil Rapor (GEMAR) yang tengah didorong Pemerintah Provinsi Banten.
Andra mengatakan keterlibatan ayah dalam momen pendidikan anak tidak sekadar simbolis, melainkan bagian dari upaya memperkuat pendidikan karakter. Menurut dia, kehadiran ayah saat pembagian rapor dapat meninggalkan kesan emosional yang membangun kepercayaan diri anak.
“Ini merupakan upaya kita membentuk generasi emas yang didukung oleh keluarga berkualitas,” kata Andra.
Putra Andra, Raffiandra Putra, saat ini menyelesaikan pendidikan di kelas IX bersama 19 siswa lainnya. Setelah dinyatakan lulus, ia akan melanjutkan pendidikan ke jenjang berikutnya.
Andra menegaskan GEMAR bukanlah kewajiban, melainkan ajakan bagi para ayah untuk lebih terlibat dalam proses pendidikan anak. Ia juga meminta aparatur sipil negara di lingkungan Pemerintah Provinsi Banten turut mengedukasi keluarga dan masyarakat agar berpartisipasi dalam gerakan tersebut.
Menurut Andra, keterlibatan ayah dalam pengasuhan perlu diperkuat melalui perubahan budaya yang selama ini lebih banyak menempatkan ibu sebagai pihak utama dalam pendampingan anak.
“Ini merupakan simbol perubahan budaya pengasuhan di Indonesia, dari yang semula terpusat pada peran ibu menjadi kolaboratif dan setara,” ujarnya.
Pelaksana Tugas Kepala Perwakilan BKKBN Provinsi Banten, Yuda Ganda Putra, mengapresiasi langkah Andra. Ia menilai peran orang tua, terutama ayah, menjadi fondasi penting dalam membangun keluarga berkualitas dan generasi yang berkarakter.
Pemerintah Provinsi Banten sebelumnya menerbitkan Surat Edaran Nomor 28 Tahun 2026 tentang Gerakan Ayah Mengambil Rapor Anak ke Sekolah pada 11 Juni 2026. Melalui kebijakan tersebut, pemerintah daerah mendorong keterlibatan ayah dalam pendidikan anak sebagai bagian dari penguatan ketahanan keluarga.
Gerakan ini diharapkan berlangsung secara berkelanjutan dan menjadi bagian dari perubahan pola pengasuhan di masyarakat. (Aep/Red)
