Transformasi Orientasi Mahasiswa di Banten, Dari Ekspresi Jalanan ke Kepemimpinan Kebangsaan

0
Transformasi Orientasi Mahasiswa di Banten, Dari Ekspresi Jalanan ke Kepemimpinan Kebangsaan
Views: 5

SERANG, TirtaNews — Arah gerakan mahasiswa di Banten mulai mengalami pergeseran. Di tengah kompleksitas tantangan sosial, ideologis, dan politik, aktivitas mahasiswa tidak lagi semata dipandang sebagai ekspresi kritik jalanan, melainkan sebagai arena pembentukan orientasi kebangsaan.

Hal ini mengemuka dalam audiensi antara Lembaga Konsultasi Bantuan Hukum Mahasiswa Islam (LKBHMI) Banten dan Komando Distrik Militer (Kodim) 0602/Serang, Senin, 20 April 2026, di Markas Kodim Serang. Pertemuan tersebut menyoroti pentingnya mentransformasikan energi mahasiswa menjadi kekuatan moral, intelektual, dan sosial yang mendukung stabilitas wilayah.

Dalam pertemuan itu, pembahasan tidak hanya berkisar pada hubungan antara TNI dan mahasiswa, tetapi juga menyentuh arah gerakan generasi muda agar tidak terjebak pada pola reaktif dan destruktif. Isu yang diangkat mencakup pentingnya etika dalam demokrasi serta kualitas orientasi politik mahasiswa di daerah strategis seperti Banten.

Secara sosiologis, mahasiswa memiliki peran ganda sebagai kelompok kritis sekaligus calon pemimpin. Ketegangan antara dua peran tersebut kerap memunculkan kontradiksi, terutama ketika kritik tidak diimbangi dengan tanggung jawab kebangsaan. Dalam konteks ini, seruan untuk menghindari tindakan anarkis dinilai sebagai upaya menjaga kualitas demokrasi, bukan membatasi kebebasan berpendapat.

Gagasan tersebut sejalan dengan konsep nasionalisme kewargaan (civic nationalism), yang menekankan komitmen terhadap aturan bersama, tanggung jawab publik, dan partisipasi yang beradab. Dalam kerangka ini, mahasiswa tidak hanya dituntut kritis, tetapi juga berkontribusi menjaga ruang publik tetap sehat dan produktif.

Nilai-nilai tersebut juga berakar pada Pancasila. Prinsip Ketuhanan, Kemanusiaan, Persatuan, Kerakyatan, dan Keadilan Sosial menjadi landasan etis bagi aktivitas sosial-politik mahasiswa. Demokrasi, dalam perspektif ini, dipahami sebagai ruang musyawarah yang menjunjung akal sehat dan kebijaksanaan, bukan sekadar ekspresi kemarahan.

Dalam audiensi tersebut, LKBHMI Banten menekankan pentingnya pembinaan mental ideologi, penanaman nilai Pancasila, wawasan kebangsaan, serta kesadaran hukum. Langkah ini dinilai penting di tengah fenomena disorientasi nilai di kalangan generasi muda, terutama di era digital yang rentan terhadap polarisasi dan ekstremisme opini.

Dari perspektif ketahanan nasional, mahasiswa merupakan bagian penting dari komponen sosial bangsa. Orientasi kebangsaan yang matang akan memperkuat daya tahan negara, sementara sikap anti-dialog dan anti-disiplin berpotensi memicu konflik sosial.

Komandan Kodim 0602/Serang dalam kesempatan tersebut menekankan pentingnya pemahaman utuh terhadap persoalan nasional. Menurutnya, mahasiswa perlu memiliki literasi strategis untuk membaca konteks dan dampak isu terhadap masyarakat, terutama di wilayah Banten yang memiliki posisi strategis sebagai penyangga ibu kota dan simpul mobilitas ekonomi.

Pertemuan itu juga menyinggung keterkaitan gerakan mahasiswa dengan agenda pembangunan nasional, seperti penguatan swasembada pangan dan pembangunan berbasis desa. Hal ini menandakan perlunya pergeseran dari oposisi spontan menuju keterlibatan kritis yang konstruktif.

Relasi antara aparat teritorial dan organisasi mahasiswa pun mulai diarahkan pada pola komunikasi yang lebih kolaboratif. Pendekatan ini dinilai penting untuk mencegah potensi konflik sosial di tengah meningkatnya arus disinformasi dan polarisasi di ruang publik.

Transformasi orientasi mahasiswa, dengan demikian, tidak dimaksudkan untuk meredam kritik, melainkan meningkatkan kualitasnya. Kritik diharapkan berkembang dari sekadar ekspresi simbolik menjadi kontribusi nyata bagi bangsa, sekaligus melahirkan kepemimpinan moral yang berakar pada nilai kebangsaan. (Az/Red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *