Cek Kesehatan Gratis Banten Tembus 70 Persen, Tertinggi Kedua Nasional

TANGERANG, TirtaNews.co.id — Program Cek Kesehatan Gratis (CKG) di Provinsi Banten telah menjangkau lebih dari 7 juta penduduk. Capaian partisipasi yang disebut melampaui 70 persen itu menempatkan Banten di posisi kedua secara nasional, hanya terpaut sekitar 0,7 persen dari Gorontalo.
Ketua Komite III Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI Filep Wamafma mengapresiasi capaian tersebut saat melakukan kunjungan kerja ke Rumah Sakit Umum Pusat Sitanala, Kota Tangerang, Senin, 5 Oktober 2026. Kunjungan itu merupakan bagian dari inventarisasi materi pengawasan terhadap pelaksanaan CKG.
“Pelaksanaan CKG di Banten menjadi contoh bagi daerah-daerah lain di Indonesia,” ujar Filep.
Menurut Filep, Komite III DPD RI ingin melihat langsung strategi pemerintah daerah dalam mendorong partisipasi masyarakat. Temuan dari kunjungan tersebut akan menjadi bahan evaluasi dan rekomendasi kepada pemerintah pusat.
Ia berharap pola pelaksanaan CKG di Banten dapat diterapkan di daerah lain, terutama dalam memperluas jangkauan pemeriksaan kesehatan masyarakat.
Direktur Fasilitasi dan Mutu Pelayanan Kesehatan Primer Kementerian Kesehatan Roy Himawan mengatakan tingginya partisipasi masyarakat dalam CKG penting untuk menghasilkan data kesehatan yang lebih akurat.
Data tersebut, kata dia, dapat menjadi dasar pemerintah dalam menentukan kebijakan peningkatan derajat kesehatan masyarakat.
“Gambaran ini berguna untuk menentukan kebijakan dalam meningkatkan derajat kesehatan masyarakat,” kata Roy.
Wakil Gubernur Banten Ahmad Dimyati Natakusumah mengatakan peserta CKG di Banten telah mencapai lebih dari 7 juta orang dan hampir menyentuh 8 juta. Angka itu disebut jauh di atas rata-rata nasional yang berada di kisaran 42 persen.
“Di Banten, capaiannya sudah lebih dari 70 persen,” ujar Dimyati.
Pemerintah Provinsi Banten, kata dia, tidak ingin berhenti pada pencapaian angka partisipasi. Pemerataan akses layanan kesehatan menjadi pekerjaan berikutnya.
Pemprov Banten akan mendorong pemutakhiran teknologi kesehatan di wilayah Banten bagian utara, sementara wilayah selatan diarahkan untuk mendapatkan penguatan sarana dan prasarana kesehatan.
“Sehingga seluruh masyarakat bisa mendapatkan pelayanan kesehatan secara optimal,” kata Dimyati.
Di Kota Tangerang, pemerintah daerah menerapkan strategi jemput bola untuk memperluas cakupan pemeriksaan. Wali Kota Tangerang Sachrudin mengatakan petugas tidak hanya menunggu masyarakat datang ke fasilitas kesehatan, tetapi mendatangi sekolah, perusahaan, komunitas, hingga permukiman warga.
“Pemkot Tangerang melakukan sistem jemput bola dalam pelaksanaan CKG,” ujar Sachrudin.
Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Banten Ati Pramudji Hastuti mengatakan posisi Banten di peringkat kedua nasional terpaut tipis dari Gorontalo yang berada di posisi pertama.
“Selisih capaian kita sekitar 0,7 persen saja,” kata Ati.
Capaian tersebut membuat Dinas Kesehatan Banten terus mendorong pemeriksaan kesehatan secara langsung di lapangan. Targetnya bukan sekadar mempertahankan posisi Banten dalam daftar provinsi dengan partisipasi CKG tertinggi, tetapi memastikan pemeriksaan kesehatan menjangkau warga yang selama ini belum tersentuh layanan.
Program CKG pada akhirnya diuji bukan oleh tingginya angka partisipasi semata, melainkan oleh kemampuan pemerintah mengubah hasil pemeriksaan menjadi deteksi dini, intervensi medis, dan kebijakan kesehatan yang tepat sasaran. (Aep/Red)
