Islamic Economic Outlook 2026 Petakan Dampak Krisis Timur Tengah bagi Indonesia‎

0
Islamic Economic Outlook 2026 Petakan Dampak Krisis Timur Tengah bagi Indonesia‎
Views: 18

JAKARTA, TirtaNews — Krisis geopolitik di Timur Tengah yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel menjadi perhatian dalam forum Islamic Economic Outlook 2026: Scenario & Strategic Options from Iran–US–Israel Regional Crisis yang digelar di Ballroom Bappenas, Jakarta, Rabu, 17 Juni 2026. Forum tersebut membahas berbagai skenario dampak konflik terhadap perekonomian Indonesia, termasuk sektor ekonomi syariah dan industri halal.

‎Kegiatan yang merupakan kolaborasi antara Bappenas, Indonesia Halal Lifestyle Center, dan DinarStandard itu menghadirkan perwakilan pemerintah, pelaku usaha, akademisi, serta pengamat ekonomi.

‎Ketua Indonesia Halal Lifestyle Center, Sapta Nirwandar, mengatakan gejolak geopolitik yang terjadi saat ini berpotensi memengaruhi berbagai aspek ekonomi global, mulai dari perdagangan dan investasi hingga rantai pasok industri halal.

‎“Krisis geopolitik tidak hanya berdampak pada kawasan yang berkonflik, tetapi juga memengaruhi perdagangan, investasi, rantai pasok, hingga perkembangan industri halal dunia,” kata Sapta dalam forum tersebut.

‎Menurut dia, Indonesia perlu meningkatkan kemampuan adaptasi terhadap perubahan lanskap ekonomi global agar mampu meminimalkan risiko sekaligus memanfaatkan peluang yang muncul. Ia menilai Indonesia memiliki kesempatan memperkuat posisi sebagai pemain utama ekonomi halal dunia apabila mampu menjaga stabilitas ekonomi domestik dan meningkatkan daya saing sektor unggulan.

‎Pandangan serupa disampaikan Wakil Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional sekaligus Wakil Kepala Bappenas, Febrian Alphyanto Ruddyard. Ia menegaskan bahwa perencanaan pembangunan nasional perlu mempertimbangkan berbagai kemungkinan perubahan ekonomi global yang dipicu dinamika geopolitik.

‎“Ketahanan ekonomi nasional menjadi fondasi penting agar Indonesia tetap tumbuh di tengah meningkatnya ketidakpastian global,” ujarnya.

‎Menurut Febrian, dampak ketegangan internasional dapat menjalar ke berbagai sektor strategis, seperti energi, perdagangan, investasi, hingga stabilitas harga. Karena itu, pemerintah perlu menyiapkan berbagai skenario kebijakan untuk menjaga kesinambungan pembangunan jangka menengah dan panjang.

‎Sementara itu, Managing Director DinarStandard, Rafiuddin Shikoh, memaparkan sejumlah kemungkinan perkembangan ekonomi global yang dapat muncul akibat konflik di Timur Tengah. Ia menilai kondisi saat ini menunjukkan tingginya tingkat ketidakpastian yang dihadapi banyak negara.

‎“Setiap perubahan geopolitik dapat menciptakan risiko baru, tetapi pada saat yang sama juga membuka peluang bagi negara-negara yang mampu beradaptasi lebih cepat,” kata Rafiuddin.

‎Ia menambahkan bahwa negara dengan fondasi ekonomi yang kuat dan ekosistem halal yang berkembang berpotensi memperoleh manfaat dari pergeseran arus perdagangan dan investasi internasional.

‎Dalam sesi penutup, Kepala Badan Penyelenggara Jaminan Produk Halal, Ahmad Haikal Hassan, menekankan pentingnya memperkuat daya saing industri halal nasional sebagai respons terhadap tantangan global yang semakin kompleks.

‎Menurut Haikal, penguatan ekosistem halal dari hulu hingga hilir menjadi langkah strategis agar Indonesia dapat mengambil peran lebih besar di pasar halal internasional. Ia menyebut sertifikasi halal, pengembangan industri, serta kolaborasi antarpemangku kepentingan sebagai faktor penting dalam mendukung agenda tersebut.

‎Forum Islamic Economic Outlook 2026 diharapkan menjadi rujukan bagi pemerintah dan dunia usaha dalam menyusun langkah antisipatif menghadapi dampak krisis Timur Tengah. Selain memetakan risiko, forum tersebut juga menyoroti peluang yang dapat dimanfaatkan Indonesia untuk memperkuat posisi dalam ekonomi syariah dan industri halal global. (Az/Red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *