Dari NII Menuju NKRI: Memahami Ijtihad Politik Umat dan Arah Perjuangan Syarikat Islam dalam Memperbaiki Bangsa

Oleh: KH. Hafidin, S.Ag. Ketua Pimpinan Syarikat Islam Provinsi Banten
Bismillahirrahmanirrahim
Segala puji hanya milik Allah Subhanahu wa Ta’ala. Shalawat dan salam semoga tercurah kepada Nabi Muhammad ﷺ, keluarga, para sahabat, dan seluruh pengikutnya hingga akhir zaman.
Perjalanan bangsa Indonesia tidak dapat dipisahkan dari perjalanan panjang ijtihad politik umat Islam. Di dalam sejarah tersebut terdapat berbagai pilihan strategi, cita-cita, dan metode perjuangan. Ada yang memilih jalan diplomasi, ada yang memilih jalan politik konstitusional, dan ada pula yang memilih perjuangan bersenjata.
Makalah ini berusaha memandang sejarah tersebut secara adil, ilmiah, dan penuh ukhuwah.
I. Menghormati Seluruh Mujahid Umat
Syarikat Islam memandang bahwa para mujahid yang memperjuangkan tegaknya Islam adalah saudara-saudara kita.
SM Kartosuwiryo beserta para pengikutnya merupakan bagian dari sejarah panjang perjuangan umat Islam Indonesia. Mereka berijtihad sesuai pemahaman dan keyakinan yang dimiliki pada zamannya.
Rasulullah ﷺ bersabda:
> إِذَا اجْتَهَدَ الْحَاكِمُ فَأَصَابَ فَلَهُ أَجْرَانِ، وَإِنْ أَخْطَأَ فَلَهُ أَجْرٌ
”Apabila seorang mujtahid berijtihad lalu benar maka ia memperoleh dua pahala. Jika keliru maka ia memperoleh satu pahala.” (HR. al-Bukhari dan Muslim).
Karena itu, kita tidak layak mudah mencela para pendahulu yang berijtihad dengan niat membela agama.
II. Kesalehan Tidak Selalu Berbanding Lurus dengan Kekuasaan
Sejarah Islam mengajarkan bahwa Allah memberikan kekuasaan kepada siapa yang Dia kehendaki.
Hasan bin Ali radhiyallahu ‘anhuma adalah cucu Rasulullah ﷺ yang sangat mulia. Namun Allah mentakdirkan beliau menjadi pemersatu umat melalui perdamaian dengan Mu’awiyah radhiyallahu ‘anhu, bukan sebagai penguasa yang mempertahankan peperangan.
Kemuliaan seseorang tidak selalu diukur dari jabatan politiknya, melainkan dari ketakwaan dan ketaatannya kepada Allah.
III. NII dan NKRI Sebagai Produk Ijtihad Politik
Dalam perspektif sejarah, lahirnya Negara Islam Indonesia (NII) maupun Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) merupakan hasil dinamika dan ijtihad politik pada masa perjuangan kemerdekaan.
Sebagian tokoh memilih jalan negara Islam, sementara sebagian lainnya merumuskan Pancasila, UUD 1945, dan NKRI sebagai dasar negara.
Perbedaan pilihan tersebut merupakan bagian dari sejarah bangsa yang perlu dipahami secara proporsional dan ilmiah.
IV. Takdir Sejarah Menetapkan NKRI
Fakta sejarah menunjukkan bahwa Allah menakdirkan NKRI bertahan hingga hari ini.
Sebagai muslim, kita menerima takdir Allah dalam perjalanan sejarah tanpa harus menghapus jasa ataupun pengorbanan para pejuang yang memiliki pilihan politik berbeda.
Menerima realitas NKRI bukan berarti menghapus semangat perjuangan Islam, tetapi menjadikannya ruang dakwah dan perbaikan.
V. Saatnya Memperbaiki NKRI
Perjuangan umat Islam hari ini bukan lagi mempertentangkan sejarah.
Tantangan bangsa jauh lebih besar:
Kemerosotan moral.
Korupsi.
Ketimpangan ekonomi.
Penguasaan sumber daya oleh kepentingan tertentu.
Lemahnya kemandirian bangsa.
Rusaknya kehidupan sosial dan keluarga.
Karena itu energi umat harus diarahkan untuk membangun bangsa melalui dakwah, pendidikan, ekonomi, politik yang berakhlak, dan amar ma’ruf nahi mungkar.
VI. Peran Strategis Syarikat Islam
Sejak didirikan oleh HOS Tjokroaminoto, Syarikat Islam memiliki misi membangun masyarakat yang beriman, mandiri, berkeadilan, dan bermartabat.
Semangat tersebut tetap relevan hingga hari ini.
Syarikat Islam harus menjadi pelopor:
Penguatan akidah.
Pendidikan umat.
Kebangkitan ekonomi.
Kepemimpinan yang amanah.
Persatuan bangsa.
Amar ma’ruf nahi mungkar.
Bukan untuk memperuncing perpecahan, tetapi menjadi solusi bagi bangsa.
Penutup
Perjuangan umat Islam tidak boleh berhenti pada romantisme sejarah ataupun konflik masa lalu.
Kita menghormati seluruh mujahid yang telah berijtihad.
Kita menerima perjalanan sejarah bangsa sebagai bagian dari takdir Allah.
Dan kini, tugas generasi kita adalah memperbaiki NKRI agar menjadi negeri yang semakin adil, bermartabat, religius, makmur, serta mendapat ridha Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Semoga Allah memberikan taufik kepada seluruh komponen bangsa untuk bersama-sama membangun Indonesia yang berkeadaban, berkeadilan, dan penuh keberkahan.
Barakallahu fiikum.
