MHG: Ekosistem Haji dan Umrah Bisa Jadi Mesin Pertumbuhan Ekonomi Syariah

JAKARTA, TirtaNews — Ketidakpastian ekonomi global akibat memanasnya konflik di Timur Tengah dinilai tidak hanya menghadirkan tantangan, tetapi juga membuka peluang baru bagi pengembangan ekonomi syariah Indonesia. Pendiri Gaido Group, Muhammad Hasan Gaido, menilai sektor haji dan umrah dapat menjadi salah satu motor pertumbuhan ekonomi nasional di tengah tekanan geopolitik dan perlambatan ekonomi dunia.
Menurut Hasan, ketegangan yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran telah memengaruhi berbagai sektor ekonomi global, mulai dari harga energi, biaya logistik, hingga daya beli masyarakat. Kondisi tersebut berdampak pada dunia usaha, termasuk meningkatnya risiko pembiayaan dan penurunan aktivitas ekonomi di sejumlah sektor.
“Di tengah berbagai tantangan itu, ekonomi syariah justru memiliki peluang untuk tumbuh karena didukung kebutuhan masyarakat yang bersifat berkelanjutan, terutama pada sektor halal serta layanan haji dan umrah,” kata Hasan dalam keterangan tertulis, Senin, 15 Juni 2026.
Hasan yang juga Presiden ISABC dan Ketua Komite Pengembangan Industri Halal dan Ekosistem Haji IAEI menilai ekosistem haji dan umrah memiliki karakteristik berbeda dibanding sektor bisnis lainnya. Permintaan terhadap layanan tersebut, menurut dia, relatif stabil karena didorong kebutuhan spiritual umat Islam yang terus meningkat.
Ia menyebut Gaido Travel sebagai salah satu contoh pengembangan bisnis berbasis ekosistem. Perusahaan yang telah beroperasi selama lebih dari dua dekade itu kini memiliki puluhan kantor cabang di berbagai daerah dan mengembangkan model kemitraan untuk memperluas akses layanan haji dan umrah.
Menurut Hasan, masa depan ekonomi syariah tidak dapat dibangun secara parsial, melainkan melalui integrasi berbagai sektor yang saling mendukung. Karena itu, Gaido Group mengembangkan sejumlah unit usaha yang terhubung dengan layanan perjalanan ibadah, mulai dari layanan kesehatan, logistik halal, perbankan syariah, perdagangan produk halal, hingga platform digital.
Ia mencontohkan layanan vaksinasi bagi calon jemaah, perdagangan produk oleh-oleh, logistik halal, serta layanan keuangan syariah sebagai bagian dari rantai nilai yang dapat menciptakan dampak ekonomi lebih luas.
“Ekosistem yang terintegrasi akan menciptakan nilai tambah yang lebih besar dibandingkan jika setiap sektor berjalan sendiri-sendiri,” ujarnya.
Hasan juga menyoroti pentingnya transformasi digital dalam penyelenggaraan layanan haji dan umrah. Menurut dia, perkembangan teknologi telah mengubah pola pelayanan umat, sebagaimana terlihat dalam penyelenggaraan haji modern di Arab Saudi.
Ia menilai penggunaan platform digital oleh pemerintah Arab Saudi, termasuk aplikasi Nusuk, menunjukkan bagaimana teknologi dapat meningkatkan efisiensi layanan, mulai dari perizinan, transportasi, hingga akses berbagai fasilitas ibadah.
“Penyelenggaraan haji saat ini memasuki era digital. Integrasi teknologi, infrastruktur, dan pelayanan menjadi faktor penting dalam meningkatkan kualitas layanan kepada jemaah,” kata Hasan.
Melalui perusahaan teknologi yang dikembangkannya, Hasan mengatakan pihaknya tengah membangun platform digital yang menghubungkan berbagai layanan ekonomi syariah dalam satu aplikasi. Platform tersebut dirancang untuk mendukung aktivitas perdagangan halal, layanan haji dan umrah, kegiatan sosial keagamaan, hingga pemberdayaan pelaku usaha.
Selain transformasi digital, Hasan menilai hubungan ekonomi Indonesia dan Arab Saudi memiliki ruang pengembangan yang besar. Salah satu peluang yang ia soroti adalah rencana pembangunan Kampung Haji Indonesia di Makkah yang selama ini menjadi agenda pembahasan kedua negara.
Menurut dia, keberadaan kawasan tersebut berpotensi meningkatkan keterlibatan produk, jasa, dan sumber daya manusia Indonesia dalam ekosistem haji dan umrah global. Jika dimanfaatkan secara optimal, peluang tersebut dapat memberikan dampak ekonomi yang lebih besar bagi Indonesia.
“Hubungan Indonesia dan Arab Saudi tidak hanya terkait ibadah haji, tetapi juga dapat berkembang menjadi kerja sama ekonomi yang saling menguntungkan,” ujarnya.
Hasan menilai penguatan ekonomi syariah harus menjadi bagian dari strategi jangka panjang Indonesia untuk memperluas sumber pertumbuhan baru di tengah dinamika ekonomi global yang terus berubah.
Baginya, haji dan umrah pada masa mendatang tidak lagi dipandang semata sebagai perjalanan ibadah, melainkan juga sebagai pintu masuk pengembangan industri halal dan ekonomi syariah yang memiliki daya saing global.
“Haji era digital bukan hanya perjalanan ibadah, tetapi momentum membangun peradaban ekonomi syariah Indonesia menuju pasar dunia,” kata Hasan. (Az/Red)
