Anak Kampung Dogimani yang Menjadi Lentera Harapan Kesehatan Papua Tengah

DOGIYAI, TirtaNews — Dari kampung kecil Dogimani, di tepian Kali Degei dan kaki Bukit Dogiyaugi, lahir sosok muda yang kini dikenal luas sebagai penggerak pelayanan kesehatan di Papua Tengah. Ia adalah Freny Anouw, Ketua KPA Provinsi Papua Tengah yang menempatkan pelayanan masyarakat sebagai inti pengabdiannya.
Bagi Freny, kesehatan tidak hanya berbicara soal obat-obatan dan fasilitas rumah sakit. Ia meyakini kesehatan juga berkaitan dengan ketenangan hidup, pola hidup sederhana, dan kepedulian sosial di tengah masyarakat.
“Kesehatan itu menyentuh tubuh, hati, dan pikiran. Hidup sederhana, makan teratur, tidur cukup—itu sudah langkah besar untuk menjaga hidup tetap sehat,” kata Freny di kediamannya, Rabu, 27 Mei 2026.
Lahir pada 7 Desember 1989, Freny merupakan anak kelima dari pasangan Bernadus Anouw dan Charlolina Dogopia. Ia tumbuh dalam lingkungan sederhana di Dogimani, Kabupaten Dogiyai, Papua Tengah. Nilai kebersamaan dan gotong royong yang kuat di kampungnya membentuk karakter kepemimpinannya sejak dini.
Pendidikan dasarnya ditempuh di SD YPPGI Dogimani dan lulus pada 2002. Ia kemudian melanjutkan pendidikan di SMP PGRI Nabire hingga tamat pada 2005, serta SMA YPPGI Nabire yang diselesaikan pada 2008. Setelah itu, Freny menempuh pendidikan tinggi di Universitas Satya Wiyata Mandala Nabire dan meraih gelar Sarjana Ilmu Pemerintahan pada 2012.
Menurut Freny, pendidikan menjadi jalan penting untuk membuka akses pelayanan bagi masyarakat yang selama ini hidup dalam keterbatasan.
“Saya percaya, ilmu adalah jembatan. Dengan ilmu, kita bisa menjangkau dan menolong lebih banyak orang. Cita-cita saya sederhana: masyarakat Dogiyai dan Papua Tengah harus punya akses kesehatan yang layak dan manusiawi,” ujarnya.
Bakat kepemimpinannya mulai terlihat sejak masa sekolah. Ia pernah dipercaya menjadi ketua kelas dan Ketua OSIS. Saat kuliah, ia turut mendirikan organisasi IPMADO Kabupaten Dogiyai pada 2008 sebagai wadah pengembangan pemuda dan mahasiswa asal Dogiyai.
Karier organisasinya berkembang melalui berbagai peran, mulai dari Sekretaris Biro Pemuda Kingmi Klasis Nabire hingga Ketua DPC PPP Dogiyai periode 2019–2023. Kini ia dipercaya memimpin DPW PPP Papua Tengah.
Pengalaman organisasi dan politik itu, menurut Freny, membentuk cara pandangnya tentang pentingnya pelayanan publik yang dekat dengan masyarakat.
Karier pemerintahan Freny dimulai pada 2023. Pada tahun yang sama, ia dipercaya menjadi Ketua KPA Provinsi Papua Tengah. Setahun kemudian, ia juga menerima amanah sebagai Ketua Porki Karate Papua Tengah.
Di tengah berbagai jabatan tersebut, Freny tetap memilih turun langsung ke wilayah-wilayah terpencil. Ia mengunjungi puskesmas, berdialog dengan masyarakat, hingga menyusun program kesehatan berbasis kebutuhan lokal.
“Jabatan itu bukan mahkota untuk dihormati. Jabatan adalah tanggung jawab untuk melayani. Mendengar langsung keluhan rakyat adalah pelayanan yang paling jujur,” katanya.
Freny juga menilai pendekatan budaya menjadi bagian penting dalam pembangunan kesehatan di Papua Tengah. Karena itu, ia berupaya melibatkan nilai dan kearifan lokal dalam setiap program yang dijalankan.
“Saya ingin setiap keluarga sadar, kesehatan adalah investasi masa depan. Anak-anak, ibu hamil, lansia—semua harus kita jaga bersama,” tutur Freny.
Di usia 37 tahun, Freny menjadi salah satu figur muda yang banyak diperbincangkan di Papua Tengah. Kesederhanaan dan kedekatannya dengan masyarakat membuat namanya dikenal hingga pelosok distrik di Dogiyai.
“Saya lahir dari rakyat kecil di Dogimani. Saya akan terus berjuang untuk rakyat. Pendidikan, pelayanan, pemerintahan, dan politik adalah jalan pengabdian saya untuk Dogiyai, untuk Papua Tengah, untuk Indonesia,” ujarnya.
Dari Dogimani, Freny Anouw menunjukkan bahwa perubahan dapat lahir dari ketulusan melayani masyarakat. (Jeri/Red)
