‎Dari NII Menuju NKRI: Memahami Ijtihad Politik Umat dan Arah Perjuangan Syarikat Islam dalam Memperbaiki Bangsa‎

0
‎Dari NII Menuju NKRI: Memahami Ijtihad Politik Umat dan Arah Perjuangan Syarikat Islam dalam Memperbaiki Bangsa‎
Views: 7

Oleh: KH. Hafidin, S.Ag. Ketua Pimpinan Syarikat Islam Provinsi Banten




‎Bismillahirrahmanirrahim

‎Segala puji hanya milik Allah Subhanahu wa Ta’ala. Shalawat dan salam semoga tercurah kepada Nabi Muhammad ﷺ, keluarga, para sahabat, dan seluruh pengikutnya hingga akhir zaman.

‎Perjalanan bangsa Indonesia tidak dapat dipisahkan dari perjalanan panjang ijtihad politik umat Islam. Di dalam sejarah tersebut terdapat berbagai pilihan strategi, cita-cita, dan metode perjuangan. Ada yang memilih jalan diplomasi, ada yang memilih jalan politik konstitusional, dan ada pula yang memilih perjuangan bersenjata.

‎Makalah ini berusaha memandang sejarah tersebut secara adil, ilmiah, dan penuh ukhuwah.

‎I. Menghormati Seluruh Mujahid Umat

‎Syarikat Islam memandang bahwa para mujahid yang memperjuangkan tegaknya Islam adalah saudara-saudara kita.

‎SM Kartosuwiryo beserta para pengikutnya merupakan bagian dari sejarah panjang perjuangan umat Islam Indonesia. Mereka berijtihad sesuai pemahaman dan keyakinan yang dimiliki pada zamannya.

‎Rasulullah ﷺ bersabda:

‎> إِذَا اجْتَهَدَ الْحَاكِمُ فَأَصَابَ فَلَهُ أَجْرَانِ، وَإِنْ أَخْطَأَ فَلَهُ أَجْرٌ



‎”Apabila seorang mujtahid berijtihad lalu benar maka ia memperoleh dua pahala. Jika keliru maka ia memperoleh satu pahala.” (HR. al-Bukhari dan Muslim).

‎Karena itu, kita tidak layak mudah mencela para pendahulu yang berijtihad dengan niat membela agama.

‎II. Kesalehan Tidak Selalu Berbanding Lurus dengan Kekuasaan

‎Sejarah Islam mengajarkan bahwa Allah memberikan kekuasaan kepada siapa yang Dia kehendaki.

‎Hasan bin Ali radhiyallahu ‘anhuma adalah cucu Rasulullah ﷺ yang sangat mulia. Namun Allah mentakdirkan beliau menjadi pemersatu umat melalui perdamaian dengan Mu’awiyah radhiyallahu ‘anhu, bukan sebagai penguasa yang mempertahankan peperangan.

‎Kemuliaan seseorang tidak selalu diukur dari jabatan politiknya, melainkan dari ketakwaan dan ketaatannya kepada Allah.

‎III. NII dan NKRI Sebagai Produk Ijtihad Politik

‎Dalam perspektif sejarah, lahirnya Negara Islam Indonesia (NII) maupun Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) merupakan hasil dinamika dan ijtihad politik pada masa perjuangan kemerdekaan.

‎Sebagian tokoh memilih jalan negara Islam, sementara sebagian lainnya merumuskan Pancasila, UUD 1945, dan NKRI sebagai dasar negara.

‎Perbedaan pilihan tersebut merupakan bagian dari sejarah bangsa yang perlu dipahami secara proporsional dan ilmiah.

‎IV. Takdir Sejarah Menetapkan NKRI

‎Fakta sejarah menunjukkan bahwa Allah menakdirkan NKRI bertahan hingga hari ini.

‎Sebagai muslim, kita menerima takdir Allah dalam perjalanan sejarah tanpa harus menghapus jasa ataupun pengorbanan para pejuang yang memiliki pilihan politik berbeda.

‎Menerima realitas NKRI bukan berarti menghapus semangat perjuangan Islam, tetapi menjadikannya ruang dakwah dan perbaikan.

‎V. Saatnya Memperbaiki NKRI

‎Perjuangan umat Islam hari ini bukan lagi mempertentangkan sejarah.

‎Tantangan bangsa jauh lebih besar:

‎Kemerosotan moral.

‎Korupsi.

‎Ketimpangan ekonomi.

‎Penguasaan sumber daya oleh kepentingan tertentu.

‎Lemahnya kemandirian bangsa.

‎Rusaknya kehidupan sosial dan keluarga.


‎Karena itu energi umat harus diarahkan untuk membangun bangsa melalui dakwah, pendidikan, ekonomi, politik yang berakhlak, dan amar ma’ruf nahi mungkar.

‎VI. Peran Strategis Syarikat Islam

‎Sejak didirikan oleh HOS Tjokroaminoto, Syarikat Islam memiliki misi membangun masyarakat yang beriman, mandiri, berkeadilan, dan bermartabat.

‎Semangat tersebut tetap relevan hingga hari ini.

‎Syarikat Islam harus menjadi pelopor:

‎Penguatan akidah.

‎Pendidikan umat.

‎Kebangkitan ekonomi.

‎Kepemimpinan yang amanah.

‎Persatuan bangsa.

‎Amar ma’ruf nahi mungkar.


‎Bukan untuk memperuncing perpecahan, tetapi menjadi solusi bagi bangsa.

‎Penutup

‎Perjuangan umat Islam tidak boleh berhenti pada romantisme sejarah ataupun konflik masa lalu.

‎Kita menghormati seluruh mujahid yang telah berijtihad.

‎Kita menerima perjalanan sejarah bangsa sebagai bagian dari takdir Allah.

‎Dan kini, tugas generasi kita adalah memperbaiki NKRI agar menjadi negeri yang semakin adil, bermartabat, religius, makmur, serta mendapat ridha Allah Subhanahu wa Ta’ala.

‎Semoga Allah memberikan taufik kepada seluruh komponen bangsa untuk bersama-sama membangun Indonesia yang berkeadaban, berkeadilan, dan penuh keberkahan.

‎Barakallahu fiikum.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *