Andy F Noya: “Sebut Saya Juga Anak Papua, Rasanya Kembali ke Kampung Halaman”

Oplus_131072
NABIRE, TirtaNews — Kehadiran jurnalis senior Andy F Noya di Papua Tengah disambut antusias ratusan pegawai dan pejabat Pemerintah Provinsi Papua Tengah. Saat namanya disebut dalam acara di Ballroom Kantor Gubernur Papua Tengah, Jalan Sisingamangaraja, Nabire, Jumat, 20 Februari 2026, tepuk tangan langsung bergemuruh.
Dalam sambutannya, Andy menyebut dirinya juga bagian dari Papua. “Sebut saya juga anak Papua. Rasanya seperti kembali ke kampung halaman,” ujarnya. Pernyataan itu memantik suasana haru sekaligus bangga di antara para hadirin.
Kehadiran Andy dinilai bukan sekadar seremoni. Ketua DPD I Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) Papua Tengah, Yustinus Tebai, mengatakan sosok Andy menjadi inspirasi bagi generasi muda di wilayah tersebut. “Beliau membuktikan bahwa keterbatasan bukan halangan untuk berkontribusi lebih luas,” kata Yustinus.
Dalam kesempatan itu, Gubernur Papua Tengah Meki F Nawipa turut berbagi kisah masa mudanya. Ia menceritakan tekadnya sejak kecil untuk mengenyam pendidikan di Jayapura—yang saat itu masih bagian dari Provinsi Irian Jaya—hingga ke Jakarta. Berasal dari Komopa, Paniai, Meki mengenal dunia luar dari televisi hitam putih milik kantor kecamatan.
Hidup jauh dari orang tua yang bertugas sebagai guru sekolah dasar di pedalaman, Meki tinggal bersama keluarga di kawasan APO, Jayapura Utara. Untuk menambah uang saku, ia memikul pasir sepulang sekolah. “Itu kami pikul pasir dengan Yan. Bayangkan saja tanjakan di APO,” ujarnya mengenang.
Bagi sebagian hadirin, kisah Andy dan Meki bukan sekadar nostalgia, melainkan pesan tentang daya juang. Andy, yang kini menetap di Banyumas, Jawa Tengah, tetap aktif dalam berbagai kegiatan sosial, mulai dari program beasiswa, layanan kesehatan, bantuan kaki palsu bagi penyandang disabilitas, hingga advokasi lingkungan.
Yustinus Tebai menegaskan KNPI Papua Tengah ingin menjadi wadah pemersatu pemuda tanpa membedakan latar belakang suku, wilayah pesisir atau pegunungan. “Saya dari Dogiyai, tapi saya ingin semua pemuda Papua Tengah bersatu. Kita harus mendukung pembangunan sejalan dengan visi-misi gubernur untuk mewujudkan Papua Tengah yang terang dan maju,” ujarnya.
Ia menambahkan, secara kelembagaan KNPI Papua Tengah akan memperkuat koordinasi dengan DPD II, organisasi kepemudaan (OKP), dan berbagai elemen masyarakat agar peran organisasi lebih efektif.
Pemerintahan Papua Tengah yang baru berjalan sekitar enam bulan dinilai telah memulai sejumlah terobosan di bidang pendidikan dan kesehatan. Tantangannya, menurut sejumlah tokoh pemuda, adalah menjaga konsistensi dan keberlanjutan program hingga menjangkau wilayah pedalaman.
Kisah tentang perjuangan masa lalu yang dibagikan di Nabire hari itu menjadi pengingat bahwa pembangunan Papua Tengah tidak hanya soal infrastruktur, tetapi juga tentang membangun generasi yang percaya pada masa depan mereka sendiri. (Jeri/Red)
