Mirip Kubangan Kerbau, Warga Keluhkan Kondisi Jalan di Pageragung yang Rusak Parah

Oplus_131072
KOTA SERANG, TirtaNews — Kondisi jalan di Kelurahan Pageragung, Kecamatan Walantaka, Kota Serang, kian memprihatinkan. Akses utama warga di Kampung Cibadak dan Kampung Simangu Gede RW 02 itu rusak parah setelah bertahun-tahun tak tersentuh perbaikan. Permukaan jalan dipenuhi lubang besar, bergelombang, dan kerap tergenang air. Warga menyebutnya mirip “kubangan kerbau”.
Kerusakan semakin terasa saat musim hujan. Genangan air menutup lubang-lubang dalam lantaran minimnya saluran pembuangan. Akibatnya, kendaraan kerap terperosok. Pengendara harus melaju perlahan untuk menghindari kecelakaan, sementara pelajar yang melintas diminta ekstra waspada.
“Kalau hujan, air menggenang di mana-mana. Lubangnya tidak kelihatan, jadi sering ada yang terperosok. Pelajar juga kasihan, harus hati-hati sekali,” kata seorang warga yang enggan disebutkan namanya.
Keluhan serupa disampaikan warga Kampung Cibadak. Mereka mengaku telah berulang kali melaporkan kondisi jalan melalui berbagai kanal pengaduan publik. Namun, hingga kini belum ada respons maupun tindakan nyata dari pemerintah.
“Kami sudah sering lapor, tapi tidak ada hasil. Apa harus aksi dulu, menanam pohon pisang atau singkong di jalan ini supaya diperhatikan?” ujar warga lainnya.
Sejumlah warga bahkan menantang pemerintah untuk meninjau langsung kondisi di lapangan. “Kalau mau tahu parahnya jalan ini, silakan datang langsung ke Simangu Gede dan Cibadak. Jangan hanya dengar laporan dari belakang meja,” kata seorang warga.
Kerusakan jalan yang berlangsung lama berdampak pada aktivitas dan keselamatan masyarakat. Sejumlah kendaraan dilaporkan mengalami kerusakan akibat melintasi jalur yang tak lagi layak tersebut. “Ini bukan soal keindahan jalan, tapi keselamatan. Sudah ada yang jatuh dan kendaraan rusak, tapi belum juga diperbaiki,” ujar warga lain.
Warga Kampung Cibadak dan Simangu Gede mendesak Pemerintah Kota Serang serta dinas terkait segera meninjau dan memperbaiki jalan tersebut. Mereka menilai lambannya penanganan mencerminkan kurangnya perhatian terhadap kebutuhan dasar masyarakat. (Maryono/Red)
