Pemuda Berdampak Gandeng Kesbangpol Banten Perkuat Nilai Pancasila dan Demokrasi

SERANG, TirtaNews — Pemuda Berdampak menggelar audiensi dan diskusi kebangsaan bersama Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) Provinsi Banten, Senin, 24 Agustus 2026. Pertemuan itu menjadi ruang dialog antara pemerintah dan generasi muda untuk membahas penguatan nilai Pancasila, demokrasi, serta peran pemuda di tengah dinamika politik.
Mengangkat tema “Merawat Nilai Kebangsaan di Tengah Dinamika Politik: Pemuda Berdampak sebagai Penggerak Pancasila dan Demokrasi di Banten”, forum tersebut menyoroti pentingnya keterlibatan anak muda dalam kehidupan berbangsa tanpa terjebak pada polarisasi politik.
Kepala Kesbangpol Provinsi Banten Novriyadi Purwansyah mengatakan pemerintah mengapresiasi inisiatif Pemuda Berdampak yang membuka ruang pengabdian dan partisipasi generasi muda.
“Kami mengapresiasi Pemuda Berdampak yang memiliki inisiatif untuk mengabdikan diri kepada bangsa dan negara. Semangat anak-anak muda seperti ini harus terus dijaga dan dikembangkan,” kata Novriyadi.
Menurut dia, pemuda memiliki posisi strategis sebagai generasi penerus sekaligus bagian dari kekuatan masyarakat dalam menjaga nilai kebangsaan dan persatuan.
Novriyadi berharap kegiatan tersebut tidak berhenti sebagai forum diskusi. Semangat pengabdian, kata dia, perlu diterjemahkan dalam kegiatan sosial, pendidikan kebangsaan, maupun kerja nyata yang memberi manfaat kepada masyarakat.
Pemerintah Provinsi Banten, dia melanjutkan, terbuka terhadap komunikasi dan kolaborasi dengan kelompok-kelompok pemuda untuk memperkuat wawasan kebangsaan dan kehidupan demokrasi.
Dalam forum itu, Pemuda Berdampak juga menekankan pentingnya sikap kritis anak muda dalam menyikapi dinamika politik. Pemuda dinilai tidak semestinya apatis terhadap persoalan bangsa, tetapi tetap harus mengedepankan etika, persatuan, dan nilai-nilai Pancasila.
Founder Pemuda Berdampak Bagas Yulianto mengatakan generasi muda harus mengambil posisi sebagai pelaku, bukan sekadar penonton dalam perjalanan bangsa.
“Kami ingin pemuda tidak hanya menjadi penonton. Pemuda harus berani hadir, berdiskusi, menyampaikan gagasan, dan mengabdikan diri untuk masyarakat serta negara,” ujar Bagas.
Ia mengatakan Pancasila semestinya tidak berhenti sebagai hafalan, melainkan menjadi nilai yang diwujudkan melalui gerakan dan pengabdian.
Bagas juga mengingatkan bahwa perbedaan pilihan politik merupakan bagian dari demokrasi. Perbedaan itu, menurut dia, tidak seharusnya merusak hubungan sosial ataupun memperlebar polarisasi di tengah masyarakat.
“Kita boleh berbeda pilihan politik dan berbeda pandangan, tetapi jangan sampai perbedaan membuat kita kehilangan persaudaraan sebagai sesama anak bangsa. Demokrasi harus menjadi ruang untuk bertukar gagasan dan memperjuangkan kepentingan rakyat,” katanya.
Audiensi tersebut diharapkan menjadi pijakan awal untuk memperkuat kolaborasi antara Pemuda Berdampak dan Kesbangpol Banten. Kerja sama diarahkan pada pengembangan ekosistem kepemudaan yang memiliki wawasan kebangsaan, kesadaran politik, serta komitmen terhadap Pancasila dan Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Pemuda Berdampak juga mendorong perluasan edukasi mengenai wawasan kebangsaan, Pancasila, demokrasi, literasi politik, dan literasi digital kepada generasi muda di berbagai daerah.
Bagi organisasi tersebut, pengabdian kepada bangsa tidak selalu harus dimulai dari langkah besar. Kepedulian, keberanian untuk bergerak, dan kemauan memberi manfaat bagi masyarakat dinilai sebagai bentuk sederhana dari pengabdian. (Risdu/Red)
