UNJ Bekali Calon Pemimpin dengan Ekolinguistik di Tengah Ledakan AI

JAKARTA, TirtaNews — Sekolah Pascasarjana Universitas Negeri Jakarta (UNJ) memperluas pendidikan kepemimpinan dengan memasukkan isu bahasa, kecerdasan buatan, dan keberlanjutan lingkungan. Langkah itu dilakukan melalui program Visiting Professor yang menghadirkan akademisi dari perguruan tinggi luar negeri.
Program Studi Doktor Linguistik Terapan Sekolah Pascasarjana UNJ menggelar Visiting Professor bertajuk “Ecolinguistics in the Age of AI: Language, Digital Ecosystems, and Sustainability” di Gedung Bung Hatta, Sekolah Pascasarjana UNJ, Senin, 10 Agustus 2026. Akademisi The Education University of Hong Kong, Associate Professor Dr. Ju Seong Lee, menjadi narasumber utama.
Direktur Sekolah Pascasarjana UNJ, Prof. Dedi Purwana, mengatakan perkembangan kecerdasan buatan telah mengubah cara manusia berkomunikasi, berpikir, dan berinteraksi. Perubahan tersebut, menurut dia, harus diimbangi dengan kesadaran terhadap persoalan lingkungan.
“Pemimpin masa depan juga harus memahami isu ekolinguistik. Sejalan dengan perkembangan AI yang mengubah cara berbicara, menulis, berpikir, dan berinteraksi, pemimpin masa depan harus mampu memahami keterkaitan antara bahasa, teknologi, dan lingkungan,” ujar Dedi.
Menurut Dedi, kampus tidak cukup hanya membekali mahasiswa dengan kemampuan teknis. Mereka juga perlu memahami dampak sosial dan lingkungan dari perkembangan teknologi. Karena itu, kajian ekolinguistik dinilai relevan untuk membaca perubahan perilaku masyarakat di tengah penetrasi teknologi digital.
Sekolah Pascasarjana UNJ juga memperkuat jejaring akademik melalui International Visiting Scholar Program. Pada 2026, program tersebut menghadirkan 16 akademisi dari sejumlah negara, antara lain Jepang, Cina, dan Australia.
Wakil Rektor I Bidang Akademik, Kemahasiswaan, dan Alumni UNJ, Prof. Ifan Iskandar, mengatakan isu keberlanjutan perlu masuk ke ruang pembelajaran dan penelitian. Ekolinguistik, kata dia, dapat menjadi jembatan antara kajian bahasa dengan persoalan lingkungan dan tantangan global.
“Isu keberlanjutan, khususnya lingkungan, perlu menjadi bagian dari proses pembelajaran dan penelitian,” kata Ifan.
Menurut Ifan, ekolinguistik tidak berhenti pada kajian bahasa sebagai alat komunikasi. Bidang tersebut juga menelaah hubungan bahasa dengan manusia dan lingkungan, termasuk bagaimana cara pandang antroposentris dan perilaku konsumtif tercermin dalam bahasa yang digunakan masyarakat.
Ju Seong Lee membawa pendekatan yang lebih luas. Ia mendorong penelitian akademik agar tidak berhenti di jurnal atau publikasi ilmiah, tetapi menghasilkan perubahan yang dapat dirasakan masyarakat.
“Penelitian tidak seharusnya berhenti pada publikasi akademik, tetapi perlu diterjemahkan menjadi dampak sosial yang nyata,” ujar Lee.
Lee juga menyoroti Informal Digital Learning of English (IDLE), pola pembelajaran bahasa Inggris secara mandiri melalui ruang digital di luar pendidikan formal. Aktivitas seperti menonton video, mendengarkan musik, bermain gim, menggunakan media sosial, hingga berinteraksi dengan AI dapat menjadi sarana pembelajaran.
Menurut Lee, ruang digital berpotensi memperkuat kemandirian, motivasi, dan kemampuan komunikasi peserta didik. Fenomena tersebut sekaligus membuka ruang penelitian baru, termasuk mengenai pola pembelajaran informal digital pada peserta didik usia sekolah di Indonesia.
Program Visiting Professor tersebut menunjukkan arah baru pendidikan tinggi: menyiapkan pemimpin yang tidak hanya menguasai ilmu, tetapi mampu membaca hubungan antara teknologi, bahasa, manusia, dan lingkungan.
Di tengah laju AI yang semakin cepat, tantangannya bukan semata-mata bagaimana manusia menggunakan teknologi. Yang lebih penting adalah bagaimana teknologi digunakan tanpa mengikis kemampuan berpikir kritis, tanggung jawab sosial, dan kepedulian terhadap keberlanjutan. (Husni/Red)
