Danrem 064 Pimpin Konsolidasi Awal Mitigasi Ancaman Gunung Anak Krakatau

SERANG, TirtaNews — Komando Resor Militer (Korem) 064/Maulana Yusuf mulai mengonsolidasikan langkah antarlembaga untuk menghadapi potensi bencana akibat aktivitas Gunung Anak Krakatau. Rapat koordinasi yang digelar di Aula Baluwarti Makorem 064/Maulana Yusuf, Serang, Rabu (8/7), difokuskan pada penyamaan persepsi, penguatan koordinasi, dan penyusunan langkah mitigasi sejak dini.
Komandan Korem 064/Maulana Yusuf, Brigjen TNI Daru Cahyadi Soeprapto, mengatakan kesiapsiagaan menghadapi bencana harus dibangun melalui koordinasi yang solid antarlembaga. Menurut dia, setiap instansi memiliki tugas dan kewenangan masing-masing sehingga diperlukan kesamaan pemahaman dalam menghadapi berbagai kemungkinan.
”Bencana tidak ada warning. Narasi yang disampaikan kepada masyarakat juga harus sama agar tidak menimbulkan hoaks,” kata Danrem saat membuka rapat.
Rapat tersebut dihadiri unsur TNI, Polri, Pemerintah Provinsi Banten, pemerintah kabupaten/kota, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), serta organisasi perangkat daerah terkait.
Danrem mengingatkan agar perkembangan aktivitas Gunung Anak Krakatau tidak dipandang sebagai persoalan sepele. Seluruh instansi diminta terus memantau dinamika aktivitas gunung api itu, mempelajari pengalaman penanganan pada kejadian sebelumnya, serta menyiapkan langkah penanganan mulai dari tahap prabencana, tanggap darurat, hingga pemulihan pascabencana.
Menurut Danrem, kesiapsiagaan yang disusun sejak dini akan mempercepat respons apabila terjadi peningkatan aktivitas vulkanik dan meminimalkan risiko terhadap masyarakat.
Dalam rapat tersebut, PVMBG memaparkan perkembangan aktivitas Gunung Anak Krakatau, BMKG menjelaskan prakiraan kondisi cuaca yang berpotensi memengaruhi penanganan bencana, sedangkan BPBD Provinsi Banten memaparkan kesiapan pemerintah daerah menghadapi kemungkinan eskalasi aktivitas gunung api.
Forum kemudian menyepakati sejumlah langkah awal, antara lain pembentukan media komunikasi lintas instansi, sinkronisasi data sarana dan prasarana, pembaruan data logistik serta moda transportasi pendukung, hingga pelaksanaan simulasi penanggulangan bencana secara berkala.
Selain itu, peserta rapat juga mendorong evaluasi kesiapan shelter, jalur evakuasi, penyempurnaan data pendukung, serta penyusunan rencana tindak lanjut secara berjenjang mulai dari tingkat provinsi, kabupaten/kota, hingga desa.
Menutup rapat, Danrem berharap koordinasi yang telah dibangun tidak berhenti pada forum diskusi, melainkan diwujudkan dalam langkah konkret agar seluruh unsur siap apabila terjadi peningkatan aktivitas Gunung Anak Krakatau.
”Mudah-mudahan tidak terjadi bencana, tetapi kalau itu terjadi, kita sudah siap,” pungkasnya. (Az/Red)
