Air Ciujung Menghitam, Petani Tambak dan Nelayan Desak Penanganan Menyeluruh

0
Air Ciujung Menghitam, Petani Tambak dan Nelayan Desak Penanganan Menyeluruh
Views: 7

SERANG, TirtaNews – Kondisi Sungai Ciujung di wilayah hilir Kabupaten Serang kembali menjadi sorotan. Memasuki musim kemarau, air sungai yang melintasi Kecamatan Pontang, Tirtayasa, hingga Tanara tampak menghitam. Warga mengaku perubahan kualitas air tersebut berdampak langsung terhadap hasil pertanian tambak dan tangkapan nelayan.

‎Pantauan di lapangan pada Selasa, 7 Juli 2026, menunjukkan warna air Sungai Ciujung berubah gelap di sejumlah titik. Petani tambak dan nelayan menyebut kondisi itu telah berlangsung berulang setiap musim kemarau.

‎Acing, 45 tahun, petani tambak sekaligus nelayan asal Desa Tengkurak, Kecamatan Tirtayasa, mengatakan hasil budidaya tambaknya terus menurun. Dalam enam bulan terakhir, udang alam di tambaknya disebut mati sehingga ia mengalami gagal panen.

‎Menurut dia, intrusi air laut, pendangkalan sungai, serta dugaan pencemaran menjadi persoalan yang terus membebani masyarakat pesisir. “Sekarang hasil tambak hampir tidak ada. Udang banyak yang mati, sementara biaya produksi terus keluar,” ujarnya.

‎Keluhan serupa disampaikan nelayan di kawasan muara Ciujung. Mereka mengaku hasil tangkapan ikan terus menurun. Selain biaya operasional yang meningkat, kondisi air yang menghitam membuat nelayan kesulitan memperoleh hasil yang layak.

‎Ketua Komunitas Peduli Sungai dan Sumber Daya Alam (KOPISUSU), Tati Sagita, mengatakan persoalan Sungai Ciujung tidak bisa diselesaikan dengan penanganan yang bersifat sementara. Menurut dia, diperlukan langkah terpadu mulai dari pengawasan terhadap dugaan pencemaran, normalisasi sungai, pemulihan daerah resapan air, hingga penegakan hukum terhadap pihak yang terbukti merusak lingkungan.

‎”Ciujung merupakan sumber kehidupan bagi masyarakat di sepanjang daerah aliran sungai. Ketika kualitas air terus menurun, yang terdampak bukan hanya ekosistem, tetapi juga perekonomian petani tambak, nelayan, dan ketahanan pangan masyarakat. Pemerintah perlu menghadirkan solusi yang menyeluruh berbasis pemulihan lingkungan, bukan sekadar penanganan jangka pendek,” kata Tati.

‎Ia juga mendorong pemerintah daerah bersama pemerintah pusat meningkatkan pemantauan kualitas air secara berkala serta membuka hasil pengawasan kepada publik. Transparansi tersebut, menurutnya, penting untuk membangun kepercayaan masyarakat sekaligus memastikan upaya pemulihan berjalan efektif.

‎Sejumlah warga berharap pemerintah segera mengambil langkah nyata untuk mengembalikan fungsi ekologis Sungai Ciujung. Mereka menilai bantuan sesaat tidak akan menyelesaikan persoalan apabila kualitas air sungai terus memburuk. Bagi masyarakat pesisir, pemulihan Sungai Ciujung menjadi harapan agar aktivitas pertanian tambak dan perikanan kembali mampu menopang kehidupan mereka. (Az/Red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *