Jembatan Penghubung Ogan Ilir–OKU–Prabumulih Kian Parah, Warga Desak Gubernur Bertindak

0
Jembatan Penghubung Ogan Ilir–OKU–Prabumulih Kian Parah, Warga Desak Gubernur Bertindak
Views: 58

OGAN ILIR, TirtaNews — Kerusakan jembatan penghubung wilayah Ogan Ilir, OKU, dan Prabumulih kembali memicu kegelisahan warga. Struktur jembatan yang makin melemah dan beberapa kali memakan insiden kendaraan terperosok, kini diperburuk dengan aksi sejumlah truk tronton yang tetap nekat melintas meski kondisi jembatan membahayakan.

Ketua DPD Generasi Muda Peduli Tanah Air (GEMPITA), Budi Rizkiyanto, menyatakan kegeramannya usai melihat sebuah tronton ugal-ugalan memaksa menyeberangi jembatan yang sudah mengalami kerusakan berat.
“Ini sudah kelewatan. Apa mereka tidak lihat jembatan ini hampir roboh? Pemerintah provinsi harus turun tangan,” ujarnya dengan nada tinggi.

Desakan serupa kembali disampaikan Kepala Desa Tebedak I, Zuhriyadi. Ia mengingatkan bahwa jembatan yang berada di perbatasan Payaraman Barat dan Tebedak I itu merupakan jalur vital ribuan warga untuk aktivitas ekonomi dan distribusi barang.
“Jembatan ini urat nadi ekonomi kami. Kalau putus, dampaknya sangat besar,” kata Zuhriyadi saat ditemui, Senin, 1 Desember 2025.

Zuhriyadi menambahkan bahwa kerusakan jembatan bukan kali pertama terjadi. Ia menilai perlunya penanganan permanen dari Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan agar perbaikan tidak terus terulang setiap tahun.

Kerusakan jembatan semakin parah setelah sebuah truk bermuatan paku bumi terperosok pada 8 Desember 2025. Sejak itu, warga setempat terpaksa melakukan pengaturan lalu lintas secara swadaya untuk mencegah kecelakaan serupa. “Mobil tiang listrik saja masih maksa lewat,” keluh salah satu warga.

Di tengah situasi tersebut, sorotan publik kembali mengarah kepada Gubernur Sumatera Selatan, Herman Deru. Warga menilai pemerintah provinsi belum mengambil langkah konkret untuk mencegah potensi putusnya akses utama tersebut.

Budi Rizkiyanto menegaskan bahwa masyarakat siap kembali turun ke jalan jika tuntutan ini kembali diabaikan.
“Jika pemerintah provinsi terus tutup mata, jangan salahkan kami bila menggelar aksi lebih besar. Kami tidak ingin ada korban jiwa akibat kelalaian ini,” ujarnya.

Warga kini menunggu langkah cepat pemerintah sebelum jembatan benar-benar ambruk dan memutus akses vital antarwilayah. (BR/Red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *