Pemuda Berdampak Dorong Kawasan Transmigrasi Jadi Sentra Pangan dan Wirausaha

JAKARTA, TirtaNews — Pemuda Berdampak mendorong kawasan transmigrasi dikembangkan menjadi sentra pangan sekaligus pusat kewirausahaan pemuda. Gagasan itu disampaikan dalam audiensi dengan Menteri Transmigrasi Muhammad Iftitah Sulaiman Suryanagara di Jakarta, Jumat, 21 Agustus 2026.
Dalam pertemuan tersebut, Pemuda Berdampak menyerahkan policy brief berjudul “Transmigrasi Berdampak: Dari Kawasan Transmigrasi Menuju Sentra Pangan dan Wirausaha Pemuda Indonesia.” Dokumen itu memuat usulan program pemberdayaan pemuda melalui penguatan ketahanan pangan, pengembangan sumber daya manusia, pemanfaatan teknologi, dan kewirausahaan.
Menteri Transmigrasi Muhammad Iftitah mengapresiasi inisiatif tersebut. Menurut dia, keberanian generasi muda mengambil peran dalam pembangunan perlu terus didorong.
“Kami mengapresiasi Pemuda Berdampak yang berani mengambil peran sebagai generasi penerus bangsa,” kata Iftitah.
Menurut dia, keterlibatan pemuda penting dalam pengembangan kawasan transmigrasi. Energi dan gagasan generasi muda dinilai dapat menjadi modal untuk menghadirkan inovasi sekaligus menjawab persoalan pembangunan di daerah.
Pemuda Berdampak menilai kawasan transmigrasi memiliki potensi untuk menjadi pusat pertumbuhan ekonomi baru. Lahan produktif, sumber daya alam, dan keberagaman masyarakat dapat dikembangkan melalui kolaborasi dengan teknologi, pendidikan, dan kewirausahaan.
Dalam konsep yang ditawarkan, pemuda tidak ditempatkan semata sebagai penerima manfaat program pemerintah. Mereka diharapkan menjadi pelaku yang terlibat langsung dalam menggerakkan ekonomi kawasan.
Usulan program itu antara lain penguatan ketahanan pangan, pengembangan usaha pemuda, transfer teknologi, peningkatan kapasitas sumber daya manusia, pengembangan produk unggulan, serta kerja sama pemerintah dengan perguruan tinggi, komunitas, dunia usaha, dan organisasi kepemudaan.
Founder Pemuda Berdampak, Bagas Yulianto, mengatakan audiensi tersebut merupakan upaya menawarkan gagasan sekaligus membuka ruang kolaborasi dengan pemerintah.
“Kami datang bukan hanya untuk menyampaikan aspirasi, tetapi membawa gagasan dan menawarkan kolaborasi,” ujar Bagas.
Dia mengatakan kawasan transmigrasi memiliki potensi yang besar apabila dikelola dengan melibatkan generasi muda. Pemuda, kata dia, dapat mengambil peran dalam pengembangan inovasi, ketahanan pangan, dan kewirausahaan di daerah.
Bagas berharap gagasan Transmigrasi Berdampak dapat ditindaklanjuti melalui program penempatan dan peningkatan kapasitas pemuda, pendampingan masyarakat, pengembangan komoditas unggulan, inkubasi usaha, riset, inovasi, hingga perluasan akses pasar.
Menurut Pemuda Berdampak, pembangunan ekonomi tidak semestinya terkonsentrasi di perkotaan. Desa dan kawasan transmigrasi juga dapat menjadi sumber pertumbuhan baru apabila potensi lokal dipadukan dengan kapasitas sumber daya manusia dan inovasi.
Gagasan itu kini diarahkan untuk berkembang dari sekadar dokumen kebijakan menjadi gerakan pemberdayaan pemuda di kawasan transmigrasi. (Az/Red)
