Program Air Bersih Rp300 Juta di Desa Domas Dipersoalkan, Warga Keluhkan Air Asin

SERANG, TirtaNews — Program sarana air bersih yang dibiayai Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) Tahun 2025 senilai Rp300 juta di Desa Domas, Kecamatan Pontang, Kabupaten Serang, Banten, dipersoalkan warga. Fasilitas yang baru diresmikan pada 23 Desember 2025 itu dinilai belum memberikan manfaat optimal karena air yang dihasilkan disebut bercita rasa asin.
Berdasarkan pantauan di lokasi pada 10 Juni 2026, air yang keluar dari instalasi bantuan Kementerian Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal (Kemendes PDT) tersebut dinilai tidak layak digunakan untuk kebutuhan sehari-hari. Sejumlah warga mengaku kecewa karena proyek yang menelan anggaran ratusan juta rupiah itu belum memenuhi harapan mereka.
“Pembangunan air bersih tidak bermanfaat karena airnya asin. Sudah keluar anggaran APBN, tapi tidak bisa dipakai,” kata seorang warga yang meminta identitasnya tidak dipublikasikan.
Selain itu, fasilitas tersebut diketahui dibangun di atas lahan wakaf masjid. Warga berharap keberadaan sarana tersebut benar-benar dapat dimanfaatkan masyarakat sesuai tujuan pembangunannya.
Prasasti yang terpasang di lokasi menyebutkan proyek tersebut merupakan “Bantuan Program Pembangunan/Pengembangan/Rehabilitasi Sarana dan Prasarana Air Bersih Tahun Anggaran 2025” yang bersumber dari APBN dan dilaksanakan oleh Kementerian Desa dan PDT.
Desa Domas berada di kawasan pesisir Kecamatan Pontang yang selama ini dikenal memiliki tingkat salinitas air tanah cukup tinggi akibat pengaruh intrusi air laut. Sejumlah warga menduga kondisi tersebut tidak diperhitungkan secara matang dalam tahap perencanaan proyek.
Menanggapi keluhan warga, Kepala Desa Domas membantah program tersebut gagal. Menurut dia, keberhasilan pengeboran di wilayah tersebut justru sudah mencapai sekitar 95 persen mengingat tingkat kesulitan mendapatkan sumber air di kawasan pesisir.
“Bukan gagal. Untuk wilayah Pontang, khususnya Domas, pengeboran memang sulit karena kebanyakan air tanah mengandung kadar garam. Kalau dibilang berhasil, ini sudah sekitar 95 persen. Airnya bening dan saat ini sudah ada warga yang mengambil untuk kebutuhan sehari-hari,” kata Kepala Desa Domas saat dikonfirmasi, Selasa, 10 Juni 2026.
Ia menjelaskan pemanfaatan sarana air bersih itu belum maksimal karena saat ini masih memasuki musim penghujan sehingga kebutuhan warga terhadap pasokan air relatif rendah. Menurut dia, penggunaan fasilitas tersebut diperkirakan meningkat saat musim kemarau tiba.
“Kalau musim kemarau nanti kemungkinan akan ramai digunakan. Untuk mendapatkan air yang benar-benar tawar di Domas memang sangat sulit,” ujarnya.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada keterangan resmi dari instansi teknis terkait, termasuk Dinas Pekerjaan Umum Kabupaten Serang. Warga berharap pemerintah daerah, Inspektorat, maupun Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) Perwakilan Banten melakukan evaluasi terhadap proyek tersebut guna memastikan penggunaan anggaran negara sesuai dengan tujuan pembangunan. (Az/Red)
