Gaido Connected, Mengubah Industri Haji Menjadi Ekosistem Bisnis Syariah

Oplus_131072
JAKARTA, TirtaNews — Memasuki usia ke-23 tahun, Gaido Travel & Tours tak lagi sekadar merayakan pertambahan umur perusahaan. Di bawah tema “Gaido Connected – Terkoneksi dengan Ekosistem Hajj”, perusahaan ini menegaskan reposisi strategis dari biro perjalanan haji dan umrah menjadi platform ekosistem ekonomi syariah terintegrasi.
Didirikan pada 18 Februari 2003 dari kantor sederhana berukuran 2×4 meter dengan satu karyawan, Gaido kini mengelola 73 kantor cabang di seluruh Indonesia. Perusahaan ini mengantongi izin penyelenggara haji khusus dan umrah, mengembangkan sistem waralaba, serta mengklaim sertifikasi standar mutu internasional dan keanggotaan asosiasi industri penerbangan dan haji.
Namun ambisi terbarunya melampaui bisnis perjalanan.
CEO Gaido Travel, Muhammad Ghazi, menyebut industri haji sebagai “rantai nilai panjang” yang belum terintegrasi secara optimal. “Haji bukan hanya perjalanan ibadah, tetapi ekosistem besar yang melibatkan jamaah, perbankan syariah, logistik, hospitality, UMKM, hingga teknologi digital,” ujarnya dalam perayaan milad di Jakarta, Rabu (18/2/2026).
Konsep “Gaido Connected” dirancang untuk menghubungkan empat simpul utama, konektivitas digital melalui optimalisasi media sosial dan platform daring, konektivitas ekosistem syariah dalam jaringan bisnis internal, konektivitas nasional lewat penguatan 73 cabang sebagai pusat ekonomi syariah daerah, serta konektivitas global melalui kolaborasi industri haji dan umrah internasional.

Langkah ini menandai fase yang mereka sebut sebagai Generasi Ketiga (2023–2032), setelah fase pendirian (2003–2012) dan ekspansi nasional berbasis manajemen profesional serta pembiayaan perbankan (2013–2022).
Yang paling ambisius adalah target melahirkan 1 juta pengusaha ekonomi syariah menuju 2045. Gaido ingin menjadikan industri haji dan umrah sebagai pintu masuk pengembangan wirausaha berbasis komunitas jamaah dan alumni.
Secara bisnis, strategi ini berpotensi menciptakan captive market dari jutaan calon dan mantan jamaah umrah serta haji khusus—segmen yang relatif stabil bahkan di tengah perlambatan ekonomi. Dengan integrasi layanan keuangan syariah, asuransi perjalanan, hingga produk UMKM, margin bisnis tak lagi hanya bergantung pada paket perjalanan.
Model ini menyerupai holding ekosistem, di mana travel menjadi pintu gerbang distribusi produk dan layanan lain. Tantangannya adalah menjaga tata kelola dan integritas di industri yang sensitif terhadap isu kepercayaan publik.
Industri haji dan umrah Indonesia dalam beberapa tahun terakhir menghadapi sorotan terkait transparansi dana jamaah dan keberangkatan. Dalam konteks itu, ekspansi ekosistem membutuhkan penguatan governance, manajemen risiko, dan literasi digital.
Gaido menyatakan komitmen pada integritas pelayanan, profesionalisme, inovasi digital, serta kolaborasi nasional dan global. Perusahaan juga menempatkan visi jangka panjang “Indonesia Sentral Ekonomi Syariah Dunia 2045” sebagai arah strategis.
Bagi pelaku industri, transformasi ini mencerminkan tren baru, travel haji tak lagi hanya menjual tiket dan hotel di Tanah Suci, tetapi membangun jejaring ekonomi berbasis komunitas religius.
Di usia 23 tahun, Gaido sedang menguji satu hipotesis besar, bahwa ibadah haji dan umrah dapat menjadi simpul penggerak ekonomi syariah nasional—bukan sekadar perjalanan spiritual, melainkan platform bisnis berkelanjutan. (Az/Red)
