Predator Anak Berkedok Aktivis Diamankan Polresta Serang Kota

Oplus_131072
SERANG, TirtaNews – Kasus kekerasan seksual terhadap anak di bawah umur kembali mencuat, kali ini terjadi di Kecamatan Taktakan, Kota Serang.
Seorang remaja perempuan berusia 17 tahun—sebut saja Bunga—diduga kuat menjadi korban pelampiasan nafsu bejat ayah tirinya sendiri, pria berinisial HN. Mirisnya, dalam kesehariannya, HN dikenal kerap menonjolkan diri sebagai sosok berpengaruh dengan mengaku-ngaku sebagai wartawan sekaligus ketua sebuah organisasi kemasyarakatan (ormas).
Aksi bejat HN terbongkar setelah pihak keluarga korban menemukan jejak digital komunikasi pelaku di ponsel korban. Berdasarkan tangkapan layar percakapan WhatsApp yang beredar, HN menjalankan modusnya dengan cara yang sistematis: merayu sekaligus mengintimidasi.
Pelaku memaksa korban untuk bertemu di tempat sepi dan memberikan instruksi melalui pesan singkat agar korban memperlihatkan bagian sensitif tubuhnya. Tekanan psikologis yang dilakukan HN diduga membuat korban tak berdaya selama beberapa waktu sebelum akhirnya kasus ini terendus keluarga.
Beruntung, amuk massa yang sempat memanas di lingkungan sekitar dapat diredam. Personel kepolisian dari Polresta Serang Kota bergerak cepat mengamankan HN dari kediamannya sebelum warga yang geram melakukan tindakan main hakim sendiri.
“Pelaku sudah kami amankan untuk pemeriksaan lebih lanjut,” ujar seorang petugas di lapangan yang enggan disebutkan namanya, Selasa, 7 April 2026.
Di sisi lain, klaim pelaku yang mencatut jabatan ketua ormas memicu kegaduhan internal di organisasi yang dimaksud. Hingga berita ini diturunkan, pimpinan ormas yang namanya sering dibawa-bawa oleh pelaku belum memberikan keterangan resmi.
Ketiadaan klarifikasi ini dikhawatirkan akan semakin memperburuk citra organisasi di mata publik. Warga dan kalangan jurnalis di Serang kini menanti pernyataan resmi dari kepolisian untuk membedah motif serta memastikan apakah ada korban lain dari tindakan predator yang berlindung di balik atribut profesi dan organisasi tersebut. (Sarman/Red)
