Jejak TMMD 127, Dari Cangkul Prajurit Lahir Jalan Harapan di Sukamenak

Oplus_131072
Oleh : Tati Sagita
SERANG, — Pagi di Desa Sukamenak, Kecamatan Cikeusal, Kabupaten Serang, terasa berbeda. Jalan tanah yang dulu licin dan berlumpur kini berubah menjadi jalur yang lebih kokoh. Di tepinya, warga berdiri sambil memandangi aktivitas terakhir para prajurit yang merapikan peralatan kerja.
Bagi sebagian warga, perubahan itu bukan sekadar pembangunan jalan. Ia menjadi simbol harapan baru.
Selama hampir satu bulan, Desa Sukamenak menjadi lokasi pelaksanaan Program TNI Manunggal Membangun Desa (TMMD) ke-127 yang digelar Kodim 0602/Serang. Program itu resmi ditutup pada Rabu (11/3/2026), menandai berakhirnya rangkaian pembangunan fisik dan kegiatan pemberdayaan masyarakat di desa tersebut.
Namun bagi warga, cerita TMMD tidak berhenti di seremoni penutupan.
Selama pelaksanaan program, para prajurit TNI tinggal di rumah warga. Mereka makan bersama, berbincang selepas senja, hingga bekerja bahu-membahu di lokasi pembangunan.
“Awalnya kami canggung, tapi lama-lama seperti keluarga sendiri,” ujar seorang warga sambil tersenyum mengenang hari-hari ketika rumahnya menjadi tempat singgah prajurit.
Kehadiran para prajurit tidak hanya membawa alat berat dan material bangunan, tetapi juga menghadirkan kebersamaan yang jarang terjadi dalam kehidupan sehari-hari desa.
Melalui program TMMD, sejumlah pembangunan fisik berhasil diselesaikan. Mulai dari pembukaan dan pengerasan jalan desa, pembangunan tembok penahan tanah (TPT), pembuatan sumur bor, pembangunan jamban, hingga perbaikan rumah tidak layak huni.
Bagi warga, perubahan itu terasa nyata.
Jalan yang sebelumnya sulit dilalui, terutama saat musim hujan, kini menjadi akses yang lebih mudah bagi warga untuk beraktivitas. Petani bisa membawa hasil panen dengan lebih cepat, sementara anak-anak dapat berangkat ke sekolah tanpa harus melewati jalan yang berlumpur.
Komandan Korem 064/Maulana Yusuf Brigjen TNI Daru Cahyadi Soeprapto mengatakan TMMD bukan sekadar program pembangunan.
Menurut dia, kegiatan tersebut juga menjadi cara untuk memperkuat hubungan antara TNI dan masyarakat.
“Bagi internal TNI, kegiatan ini memperkuat jati diri bahwa TNI berasal dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat,” kata Danrem saat penutupan kegiatan.
Selama pelaksanaan TMMD, para prajurit tidak hanya bekerja membangun infrastruktur. Mereka juga berinteraksi langsung dengan masyarakat desa.
Kedekatan itu menciptakan ruang bagi warga dan prajurit untuk saling berbagi cerita, pengalaman, bahkan harapan tentang masa depan desa.
Selain pembangunan fisik, TMMD juga menghadirkan berbagai kegiatan nonfisik bagi masyarakat. Warga mengikuti penyuluhan kesehatan, program keluarga berencana, pencegahan penyakit seperti demam berdarah, hingga wawasan kebangsaan.
Tidak hanya itu, ada pula kegiatan pembinaan usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) yang diharapkan dapat membantu masyarakat mengembangkan potensi ekonomi desa.
“UMKM ini penting untuk memicu masyarakat agar mampu mandiri dan berproduksi dari wilayahnya sendiri,” ujar Danrem.
Asisten Daerah I Kabupaten Serang Syamsuddin mengatakan dirinya sempat meninjau langsung sejumlah lokasi kegiatan TMMD dengan berkeliling menggunakan sepeda motor bersama rombongan.
Dari peninjauan tersebut, ia melihat hasil pembangunan yang dinilai cukup signifikan.
Menurutnya, capaian yang diperoleh melalui program TMMD belum tentu dapat dicapai jika pembangunan dilakukan melalui pihak ketiga.
“Kalau dibandingkan dengan pekerjaan yang dilakukan pihak ketiga, belum tentu bisa sejauh ini hasilnya,” kata Syamsuddin.
Ia menilai keberhasilan TMMD tidak hanya terlihat dari pembangunan jalan atau fasilitas umum lainnya, tetapi juga dari kegiatan nonfisik yang langsung menyentuh kehidupan masyarakat.
“Di samping kegiatan fisik, ada juga kegiatan nonfisik. Ini yang biasanya tidak pernah disentuh oleh pihak ketiga ketika melaksanakan proyek pembangunan,” ujarnya.
Bagi warga Sukamenak, TMMD bukan sekadar program yang datang dan pergi. Ia meninggalkan jejak nyata dalam kehidupan desa.
Jalan yang lebih baik, rumah yang lebih layak, serta pengetahuan baru yang dibawa melalui berbagai penyuluhan menjadi bagian dari perubahan itu.
Kini, ketika para prajurit kembali ke satuan masing-masing, warga desa tetap menyimpan kenangan tentang hari-hari ketika mereka bekerja bersama membangun desa.
Di sepanjang jalan baru itu, harapan juga ikut tumbuh—bahwa perubahan kecil yang dimulai dari desa bisa menjadi langkah besar menuju kehidupan yang lebih baik.#
