Damai dengan Tuhan, Sesama, dan Alam

0
Damai dengan Tuhan, Sesama, dan Alam
Views: 2

Oleh : Jeri P. Degei (mahasiswa asal Mepago yang sedang menempuh studi di Sorong)

Unggahan akun pribadi Facebook Bupati Dogiyai, Yudas Tebai, pada awal Maret ini terasa berbeda. Di tengah dinamika sosial dan tantangan pembangunan di Papua Tengah, ia memilih menuliskan pesan sederhana namun mendalam: pentingnya berdamai dengan Tuhan, sesama, dan alam.

Bagi saya, sebagai pemuda Mee dari wilayah Mepago yang sedang menempuh studi di Universitas Kristen Papua, pesan itu bukan sekadar kalimat normatif pejabat daerah. Ia adalah refleksi tentang arah hidup dan fondasi moral yang dibutuhkan tanah Papua hari ini.

Berdamai dengan Tuhan berarti menyadari keterbatasan manusia. Kita tidak berjalan hanya dengan hikmat sendiri, tetapi membutuhkan tuntunan Ilahi. Di tanah pegunungan Papua Tengah—yang oleh orang Mee disebut Meuwodide—iman bukan sekadar identitas, melainkan napas kehidupan.

Moto Kabupaten Dogiyai, “Dogiyai Dou Enaa”—hidup berharga ketika memberi arti—menjadi relevan dalam konteks ini. Hidup akan indah bila dijalani dengan rasa syukur. Kedamaian batin lahir ketika manusia menyelaraskan kehendaknya dengan kehendak Sang Pencipta.

Tanpa relasi vertikal yang kuat, pembangunan hanya akan menjadi deretan angka statistik tanpa ruh.

Papua adalah rumah bagi banyak suku, ras, dan latar belakang. Dalam konteks itu, pesan untuk menghentikan ucapan yang menyinggung perasaan menjadi sangat penting. Kita semua basudara—bersaudara dalam kemanusiaan dan ciptaan Tuhan.

Perdamaian sosial tidak lahir dari keseragaman, melainkan dari penghormatan. Berlaku adil, bersikap bijak, dan menahan diri dari ujaran yang melukai adalah bentuk kedewasaan kolektif.

Di Dogiyai dan wilayah Mepago secara umum, harmoni sosial adalah modal utama pembangunan. Tanpa kepercayaan dan rasa aman antarwarga, sulit membayangkan kemajuan yang berkelanjutan.

Pesan paling menyentuh dari unggahan itu adalah ajakan menjaga alam. Bumi bukan warisan nenek moyang semata, melainkan titipan untuk anak cucu.

Sebagai mahasiswa pertanian dengan konsentrasi manajemen sumber daya perairan, saya melihat langsung bagaimana kerusakan lingkungan berdampak pada kehidupan masyarakat: air tercemar, tanah kehilangan kesuburan, dan hasil alam menurun.

Merawat alam berarti merawat masa depan. Alam telah melindungi manusia dengan hutan, sungai, dan tanah yang subur. Sudah sepatutnya manusia menjadi penata, bukan penakluk.

Dalam perspektif iman, alam bukan sekadar objek eksploitasi. Ia adalah bagian dari karya Tuhan. Menghormati alam berarti mengingat Sang Pencipta.

Berdamai dengan Tuhan, sesama, dan alam bukanlah tiga gagasan terpisah. Ketiganya membentuk satu kesatuan harmoni kehidupan. Takut akan Tuhan menumbuhkan hikmat. Hikmat melahirkan keadilan terhadap sesama. Keadilan menjaga keseimbangan dengan alam.

Ajakan “Mari torang berdamai” bukan slogan kosong. Ia adalah seruan moral di tengah berbagai tantangan sosial, ekonomi, dan ekologis yang dihadapi Papua Tengah.

Pada akhirnya, hidup yang diberkati bukanlah hidup yang menaklukkan banyak hal, melainkan hidup yang mampu menjaga keseimbangan. Sayangilah semua yang ada di bumi—manusia, makhluk hidup, dan alam sekitar—agar damai dan berkat benar-benar tinggal di tanah ini. #

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *