Di Antara Tumpukan Batu, Warga Cadas Ngampar Menata Harapan

SERANG, TirtaNews — Minggu pagi, 15 Februari 2026, jalan lingkungan di Kampung Cadas Ngampar, Desa Sukamenak, Kecamatan Cikeusal, Kabupaten Serang, berubah menjadi arena kerja bakti. Batu-batu kali ditumpuk di sisi jalan, sebagian lain sudah tersusun rapi membentuk badan jalan yang selama ini dinantikan warga.
Program TNI Manunggal Membangun Desa (TMMD) Ke-127 yang dilaksanakan Kodim 0602/Serang mempertemukan personel TNI, anggota kepolisian, dan masyarakat dalam satu barisan kerja. Namun di lapangan, yang menonjol bukan hanya seragam loreng atau atribut dinas, melainkan warga yang datang membawa cangkul, linggis, dan tenaga mereka sendiri.
Di antara mereka, Agung, tokoh masyarakat setempat, terlihat beberapa kali mengangkat batu berukuran sedang, memindahkannya ke titik penyusunan. Wajahnya basah oleh keringat. Ia tak sekadar mengawasi, melainkan berdiri sejajar dengan prajurit dan aparat, memanggul beban yang sama.
“Ini bukan hanya soal membangun jalan, tapi membangun kebersamaan,” kata Agung di sela-sela istirahat singkat. “Kami bangga karena TNI dan Polri hadir dan bekerja bersama kami. Semoga jalan ini jadi jalan harapan untuk masa depan anak-anak kami.”
Jalan yang tengah dibangun itu sebelumnya berupa tanah berbatu yang licin saat hujan dan berdebu ketika kemarau. Anak-anak kerap kesulitan bersepeda, sementara warga harus berhati-hati melintas dengan sepeda motor. Kerja bakti kali ini menjadi momentum yang sudah lama dinanti.
Sejumlah ibu tampak berdiri di teras rumah, sebagian menyiapkan minuman untuk para pekerja. Para pemuda bergantian mengangkut batu dari tumpukan material. Tidak ada pembagian peran yang kaku. Siapa pun yang datang, langsung mengambil bagian.
“Kalau cuma mengandalkan aparat, mungkin lama. Tapi kalau kami ikut, rasanya beda. Ada rasa memiliki,” ujar Dedi, 28 tahun, warga setempat.
Sepanjang pagi, suara aba-aba terdengar bersahut-sahutan, diselingi canda ringan. Batu-batu yang awalnya berserakan perlahan membentuk susunan yang lebih teratur. Di atas permukaan yang mulai rata itu, warga membayangkan akses yang lebih mudah untuk aktivitas sehari-hari—mengangkut hasil kebun, berangkat sekolah, atau sekadar bersilaturahmi ke kampung sebelah.
TMMD bagi warga Cadas Ngampar bukan semata proyek pembangunan fisik. Ia menjadi ruang perjumpaan, tempat sekat antara aparat dan masyarakat menipis oleh kerja bersama. Setiap batu yang terangkat bukan hanya material bangunan, melainkan simbol partisipasi.
Menjelang siang, tumpukan batu semakin berkurang. Jalan memang belum sepenuhnya rampung, tetapi semangat gotong royong telah lebih dulu mengeras—menjadi fondasi yang, bagi warga, tak kalah penting dari susunan batu yang mereka tata bersama. (Tati/Red)
