Guru Tanpa Didaktik Metodik Dinilai Berisiko bagi Mutu Pendidikan

Oplus_131072
PANIAI, TirtaNews – Praktik mengajar tanpa dibekali pemahaman didaktik dan metodik dinilai berpotensi menimbulkan dampak serius terhadap mutu pembelajaran. Didaktik sebagai ilmu mengajar dan metodik sebagai teknik mengajar merupakan fondasi utama agar proses pendidikan berlangsung terstruktur, terukur, dan efektif.
Hal tersebut disampaikan pemerhati pendidikan Elisa Pigome kepada TirtaNews.co.id, Sabtu, 7 Februari 2026. Menurut dia, guru yang langsung terjun mengajar tanpa dasar teori pendidikan berisiko merusak proses belajar siswa.
“Tanpa didaktik dan metodik, pembelajaran kehilangan arah dan tujuan yang jelas,” kata Elisa.
Ia menjelaskan, ketiadaan landasan teori membuat guru kesulitan merumuskan kurikulum, panduan pembelajaran, maupun tujuan belajar. Akibatnya, kegiatan belajar di kelas cenderung monoton dan tidak terdokumentasi dengan baik.
Elisa juga menyoroti dampak psikologis terhadap peserta didik. Tanpa variasi metode pembelajaran, siswa mudah bosan, kehilangan minat belajar, dan motivasi intrinsik mereka menurun. Kondisi tersebut, menurut dia, berpengaruh langsung terhadap prestasi akademik siswa.
“Pengajaran yang kurang berkualitas membuat siswa kesulitan memahami materi, sehingga prestasi akademik menurun,” ujarnya.
Selain itu, guru tanpa kompetensi metodik dinilai tidak memiliki keterampilan dasar dalam mengelola kelas. Pengawasan menjadi lemah dan suasana belajar tidak kondusif. Potensi siswa pun berisiko terabaikan karena guru tidak memahami tahap perkembangan peserta didik.
Elisa menegaskan, persoalan ini tidak hanya berlaku di dunia pendidikan. Ia menyebut sejumlah profesi yang menuntut penguasaan teori sebelum praktik karena berkaitan langsung dengan keselamatan dan kehidupan manusia, seperti guru, pilot, kapten kapal, pengemudi transportasi darat dan laut, tenaga kesehatan, serta pemuka agama.
“Profesi-profesi ini tidak boleh dijalankan hanya bermodal praktik tanpa teori. Kesalahan kecil bisa berakibat fatal,” katanya.
Menurut Elisa, kecenderungan ingin “langsung praktik” tanpa melalui proses belajar yang berjenjang masih menjadi persoalan di sejumlah wilayah Papua, khususnya di wilayah Mee Pago. Ia menilai, pengabaian pendidikan dasar dan proses pembelajaran bertahap berpotensi menimbulkan korban, baik bagi pemimpin maupun masyarakat yang dipimpinnya.
“Teori adalah pagar keselamatan. Tanpa itu, praktik justru menjadi berbahaya,” ujar Elisa. (Jeri/Red)
