Gubernur Banten Bantu Fasilitas Pengolah Sampah Organik di Tangsel

0
Gubernur Banten Bantu Fasilitas Pengolah Sampah Organik di Tangsel
Views: 14

TANGSEL, TirtaNews — Gubernur Banten Andra Soni memberikan bantuan fasilitas pengolahan sampah organik untuk membantu mengurangi timbunan sampah di Kota Tangerang Selatan. Bantuan berupa toren Pupuk Organik Cair (POC) dan instalasi biogas itu mampu mengolah hingga 100 kilogram sampah organik rumah tangga per hari.

Fasilitas tersebut tidak hanya menghasilkan pupuk cair, tetapi juga biogas yang dapat dimanfaatkan untuk memasak selama 30 hingga 60 menit setiap hari. Bantuan ini ditujukan sebagai solusi jangka pendek penanganan sampah dari sumbernya, sembari menunggu beroperasinya sistem pengolahan sampah terpadu berbasis aglomerasi.

Inisiator Toren POC dan Biogas sekaligus Ketua Banksasuci Foundation, Ade Yunus, mengatakan bantuan tersebut berasal dari dana pribadi Gubernur Banten dan tidak menggunakan anggaran pendapatan dan belanja daerah.

“Pak Gubernur memiliki perhatian serius terhadap persoalan sampah di Tangsel. Sambil menunggu pengolahan sampah berbasis aglomerasi berjalan, beliau ingin ada langkah konkret yang bisa langsung dirasakan masyarakat,” kata Ade, Minggu, 18 Januari 2026.

Menurut Ade, Gubernur juga meminta Banksasuci Foundation melakukan pendampingan dan edukasi kepada masyarakat agar pengelolaan sampah dilakukan sejak dari rumah. Dengan begitu, hanya residu yang benar-benar tidak bisa diolah yang dibuang ke tempat penampungan sementara maupun tempat pembuangan akhir.

“Alat bisa dibuat siapa saja. Tantangannya justru pada pendampingan dan edukasi yang berkelanjutan. Kami berharap semangat pengelolaan sampah tanpa sisa bisa terwujud,” ujarnya.

Ketua Bank Sampah The High Jaya Serpong, Kecamatan Serpong, Anita Yuliana, mengapresiasi bantuan dan perhatian Gubernur Banten terhadap pengelolaan sampah di wilayahnya. Ia mengatakan dukungan tersebut memberikan semangat baru bagi pengelola bank sampah di tengah kondisi darurat sampah.

“Kami tetap berjalan meski dalam keterbatasan. Dengan adanya fasilitas dan pendampingan ini, kami kembali bersemangat,” kata Anita.

Ia mengakui pengelolaan sampah organik masih menjadi tantangan tersendiri. Upaya sebelumnya melalui budidaya maggot belum berjalan optimal karena membutuhkan ketekunan tinggi.

“Mudah-mudahan dengan toren POC ini, pengolahan sampah organik di lingkungan kami bisa lebih efektif,” ujarnya. (Az/Red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *