Pastor Yance Yogi Bertahan di Intan Jaya, Menjaga Iman di Tengah Konflik

INTAN JAYA, TirtaNews — Di tengah konflik bersenjata yang berkepanjangan di Kabupaten Intan Jaya, Papua Tengah, Pastor Yance Yogi memilih jalan yang tidak lazim: bertahan dan melayani. Imam Katolik yang ditahbiskan pada 2023 itu kini dikenal sebagai figur yang berani dan konsisten mendampingi masyarakat di wilayah rawan kekerasan.
Pastor Yance, yang menjabat sebagai Dekan Moni, ditugaskan di Titigi, Intan Jaya, tak lama setelah tahbisan imamatnya. Saat sebagian warga dan aparatur memilih mengungsi karena eskalasi keamanan, ia justru menetap bersama umatnya. “Ia hadir bukan hanya sebagai imam, tetapi juga sebagai peneduh di tengah ketakutan,” ujar Ketua Panitia Rakokar Musme St. Yohanes Pemandi, Sabtu malam, 17 Januari 2026.
Dalam kesehariannya, Pastor Yance terlibat langsung dalam berbagai upaya meredakan ketegangan. Ia kerap menjadi perantara komunikasi antara masyarakat, aparat keamanan, dan kelompok-kelompok lain yang terlibat konflik. Selain menjalankan pelayanan pastoral—misa, sakramen, dan kunjungan umat—ia juga aktif mengoordinasikan bantuan kemanusiaan berupa makanan, obat-obatan, dan kebutuhan dasar bagi warga terdampak.
Konflik di Intan Jaya merupakan bagian dari benturan bersenjata antara Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat (TPNPB/OPM) dan aparat keamanan Indonesia. Akar konflik dinilai kompleks, mulai dari luka sejarah integrasi Papua pada 1969, dugaan pelanggaran hak asasi manusia, ketimpangan pembangunan, hingga keterbatasan akses pendidikan dan layanan dasar.
Dampaknya signifikan. Lebih dari 76.000 warga dilaporkan mengungsi dari wilayah konflik, terutama dari Distrik Sinak di Kabupaten Puncak dan Distrik Hitadipa di Intan Jaya. Para pengungsi tersebar di Nabire, Timika, Sugapa, Hitadipa, dan Paniai. Selain korban jiwa, konflik juga menyebabkan kerusakan sekolah, fasilitas kesehatan, dan infrastruktur publik lainnya.
Di tengah situasi itu, peran Pastor Yance dinilai krusial. Ia tidak hanya memberi penghiburan rohani, tetapi juga membangun harapan agar masyarakat tetap bertahan. Upayanya mendapat apresiasi dari berbagai pihak, termasuk Bupati Intan Jaya Aner Maisini, Gereja Katolik, serta kelompok aktivis kemanusiaan.
Penghargaan tersebut diberikan sebagai bentuk pengakuan atas keberanian dan dedikasinya melayani di daerah konflik, sekaligus diharapkan menjadi inspirasi bagi tokoh agama dan masyarakat luas.
Bagi umat di Stasi Santo Eyagitaida Dokukiyaida Bagee, Pastor Yance bukan sekadar pemimpin rohani. Ia dianggap simbol keteguhan iman. “Damai itu indah,” demikian pesan yang kerap disampaikan umat sebagai ungkapan terima kasih atas kehadiran dan pengabdian sang pastor di tanah yang belum sepenuhnya damai. (Jeri/Red)
