Di Tengah Hujan Lebat, Kapolres Serang Joget House Music Bersama Buruh

0
Di Tengah Hujan Lebat, Kapolres Serang Joget House Music Bersama Buruh
Views: 54

SERANG, TirtaNews — Aksi unjuk rasa buruh di depan Pendopo Bupati Serang, Kamis, 18 Desember 2025, berlangsung di luar kebiasaan. Di bawah guyuran hujan lebat yang tak kunjung reda, demonstrasi yang semula bernuansa tegang justru berubah cair ketika dentuman house music menggema dan Kapolres Serang AKBP Condro Sasongko ikut berjoget bersama ribuan buruh.

Sekitar dua ribu buruh dari berbagai serikat awalnya berdiri dengan wajah serius sambil mengangkat spanduk tuntutan. Namun perlahan suasana berubah. Irama musik membuat massa ikut menggerakkan kaki, tanpa menurunkan spanduk aspirasi yang mereka bawa.

“Hujan bukan penghalang, yang penting aspirasi tetap jalan dan situasi tetap aman,” kata Condro Sasongko sambil tersenyum, di sela-sela jogetnya bersama massa buruh.

Aksi joget Kapolres ini terjadi ketika situasi mulai memanas akibat Bupati Serang yang belum juga menemui perwakilan buruh. Alih-alih membiarkan emosi massa meningkat, Condro memilih pendekatan yang tidak lazim. “Kalau bisa cair, kenapa harus tegang. Kita jaga kondusivitas bareng-bareng,” ujarnya.

Tak hanya Kapolres, sejumlah personel kepolisian yang bertugas mengamankan aksi juga tampak ikut berjoget ringan. Barisan aparat yang biasanya berdiri kaku terlihat lebih lentur, meski tetap siaga mengawal jalannya demonstrasi. Pemandangan itu disambut sorak dan tawa buruh, yang menyebut aksi tersebut sebagai “demo rasa konser”.

Meski suasana mencair, tuntutan buruh tetap disuarakan dengan serius. Dalam orasinya, perwakilan buruh menyampaikan tiga tuntutan utama kepada pemerintah daerah. “Kami minta pemerintah daerah segera menggelar sidang pleno pengupahan. Jangan ditunda-tunda lagi,” kata Asep Saefullah, salah satu orator dari atas mobil komando.

Tuntutan kedua adalah kenaikan Upah Minimum Kabupaten (UMK) Serang Tahun 2026 sebesar 12 persen. Menurut buruh, kenaikan tersebut dinilai sebanding dengan melonjaknya harga kebutuhan hidup. “Harga kebutuhan naik, hujan saja makin deras, masa upah nggak naik?” celetuk seorang buruh, yang langsung disambut tawa massa.

Selain itu, buruh juga mendesak penetapan kenaikan Upah Minimum Sektoral Kabupaten (UMSK) Tahun 2026. Mereka meminta kebijakan pengupahan yang dinilai adil dan berpihak pada kesejahteraan pekerja. “Kami ingin kenaikan yang adil, bukan sekadar angka di atas kertas,” ujar perwakilan buruh lainnya.

Hingga aksi berakhir, demonstrasi berlangsung aman dan kondusif. Aksi yang semula diwarnai ketegangan itu justru menjadi potret unik penyampaian aspirasi—tetap serius, namun tanpa kehilangan suasana damai, bahkan diiringi joget di bawah hujan lebat. (Az/Red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *