BNN Banten Fokus Pencegahan Narkotika, Peredaran Obat Tipe G Jadi Tantangan

SERANG, TirtaNews — Badan Narkotika Nasional (BNN) Provinsi Banten menegaskan fokus utama lembaganya tetap pada penanganan narkotika, sementara peredaran obat keras daftar G menjadi kewenangan lintas sektor yang melibatkan kepolisian, BPOM, dan pemerintah daerah.
Kepala BNN Provinsi Banten Rohmad Nursahid mengatakan, BNN tetap berkolaborasi dengan Bea Cukai, Polri, BPOM, serta pemerintah daerah dalam menekan peredaran obat-obatan berbahaya yang kerap disalahgunakan. “BNN itu fokus pada narkotika. Sedangkan obat tipe G menjadi tugas bersama Polri, BPOM, dan Pemda. Namun kami tetap berkolaborasi,” kata Rohmad kepada TirtaNews.co.id saat ditemui disela-sela kegiatan pelatihan peningkatan pelayanan publik BNN Provinsi Banten, di Teras UNBAJA Ciwaru, Kota Serang, Senin (15/12/2025).
Menurut Rohmad, upaya pencegahan terus dilakukan melalui penyuluhan dan sosialisasi secara masif hingga ke pelosok daerah. Langkah ini dinilai penting mengingat semakin mudah dan murahnya akses terhadap narkoba dan obat terlarang, termasuk produk palsu atau berkualitas rendah.
Ia menyoroti maraknya peredaran PCC palsu yang diketahui mengandung ekstasi versi tiruan. “Banyak yang dibuat KW. Dampaknya sangat berbahaya, terutama bagi remaja,” ujarnya.
Rohmad menyebut faktor pergaulan teman sebaya dan fenomena fear of missing out (FOMO) turut mendorong penyalahgunaan narkoba, diperparah dengan pengaruh digitalisasi yang memudahkan transaksi dan distribusi. Karena itu, BNN Banten melakukan pemetaan wilayah rawan dengan melibatkan seluruh pemangku kepentingan.
Namun, upaya pemberantasan tidak lepas dari kendala. Sindikat narkoba dinilai semakin inovatif dan kreatif dalam mengelabui aparat. “Mereka terus berubah pola. Kami melakukan razia di titik-titik tertentu, tapi tantangannya besar,” kata Kepala Bidang Pemberantasan BNN Banten KRA Dinar.
BNN Banten menegaskan komitmennya untuk memperkuat sinergi lintas lembaga demi menekan angka penyalahgunaan narkoba dan obat-obatan berbahaya di wilayah tersebut. (Az/Red)
