Dinas Kesehatan Paniai Gelar Pemeriksaan dan Pengobatan Massal di Distrik Bayabiru

PANIAI, TirtaNews — Pemerintah Kabupaten Paniai melalui Dinas Kesehatan memperluas jangkauan layanan kesehatan dasar dengan menyelenggarakan penyuluhan, pemeriksaan, dan pengobatan massal bagi masyarakat Distrik Bayabiru. Kegiatan berlangsung selama dua hari, Senin–Selasa, 8–9 Desember 2025, terpusat di Puskesmas Bayabiru dan beberapa titik sekitarnya.
Program pelayanan ini dipimpin Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan Paniai, di bawah komando Kepala Bidang P2P, Beny Degei, SKM., MKM., didampingi tiga staf serta tenaga kesehatan dari Puskesmas Bayabiru. Langkah ini menjadi bagian dari upaya memperluas akses kesehatan masyarakat di wilayah pedalaman yang selama ini terbatas, terutama terkait pencegahan penyakit menular dan tidak menular.
Dalam wawancara bersama media lokal, Beny Degei menjelaskan bahwa pemeriksaan HIV/AIDS dilakukan secara terstruktur pada populasi khusus di sembilan lokasi. Selain itu, seluruh masyarakat Distrik Bayabiru juga dapat mengikuti pemeriksaan umum tanpa batasan.
“Populasi khusus kita periksa di sembilan tempat. Untuk masyarakat umum, semua warga Bayabiru dapat ikut pemeriksaan kesehatan tanpa terkecuali,” ujar Beny.

Ia menambahkan, pemahaman masyarakat mengenai penyakit tidak menular seperti kolesterol tinggi dan asam urat masih perlu ditingkatkan. Menurutnya, kedua penyakit sering muncul akibat pola makan tidak terkontrol dan minim aktivitas fisik.
“Kesehatan anak-anak awalnya tanggung jawab orang tua, tetapi ketika dewasa, kesadaran menjaga kesehatan menjadi tanggung jawab pribadi,” kata Beny.
Beny mengungkapkan bahwa mulai tahun depan, Dinas Kesehatan Paniai akan melaksanakan layanan pemeriksaan kesehatan gratis secara berkala di seluruh distrik, sebagai bentuk dukungan terhadap program Bupati Paniai.
“Tahun depan kami akan melaksanakan pemeriksaan gratis, dan akan melakukan kunjungan rutin minimal tiga bulan sekali di setiap distrik, termasuk daerah yang jauh dari pusat kota,” jelasnya.
Distrik Bayabiru, yang dihuni masyarakat lokal maupun pendatang nusantara, disebut membutuhkan pendekatan pelayanan yang lebih merata. “Karena masyarakat nusantara juga ada di wilayah Bayabiru, maka kami akan lebih konsisten turun ke lapangan,” tambahnya.
Saat ini, pemeriksaan massal baru terlaksana di satu lokasi dari total sepuluh titik yang berada di area penambangan emas ilegal di Bayabiru. Kepala Bidang P2P menegaskan bahwa tahun depan pihaknya akan menjangkau sembilan titik lain yang belum tersentuh layanan kesehatan.
“Sembilan titik lokasi di Distrik Bayabiru seperti Amano, 99, Tayaga, Minim Tinggi, Minim Biru, Wempa, Kapitadi, Tagi Pige dan lainnya akan kami datangi. Pemeriksaan HIV/AIDS, penyakit menular dan tidak menular akan dilakukan rutin dan bergiliran, mulai dari pimpinan perusahaan hingga karyawan,” ujar Beny.
Menurutnya, pemeriksaan dini sangat penting untuk meminimalkan potensi penyebaran penyakit, terutama di daerah dengan interaksi sosial tinggi akibat aktivitas pertambangan.
Selain pemeriksaan dan pengobatan, kegiatan ini dirancang untuk mengedukasi masyarakat tentang pentingnya pola hidup sehat dan deteksi dini penyakit. Pemerintah berharap, melalui layanan langsung di lapangan, angka penyakit menular dan tidak menular di Kabupaten Paniai dapat ditekan.
“Tidak boleh ada masyarakat yang tertinggal dalam akses pelayanan kesehatan,” tegas Beny.
Program dua hari ini menjadi langkah awal menuju pemerataan layanan kesehatan di wilayah yang selama ini sulit dijangkau, sekaligus memperkuat komitmen pemerintah daerah dalam membangun masyarakat yang lebih sehat dan berdaya. (Jeri/Red)
