Aksi Pro Rakyat Sorong Raya Disuarakan Lewat Puisi Putri Rumpun Ras Melanesia

0
Aksi Pro Rakyat Sorong Raya Disuarakan Lewat Puisi Putri Rumpun Ras Melanesia

Oplus_131072

Views: 135

SORONG, TirtaNews — Aksi Pro Rakyat Sorong Raya pada 1 Desember 2025 berlangsung dengan nuansa berbeda. Di antara poster, spanduk aspirasi, dan orasi warga, suara sastra justru menjadi sorotan. Sebuah puisi karya Putri Rumpun Ras Melanesia, Yuliance Keiya, perempuan asal Dogiyai, Papua Tengah, dibacakan sebagai bentuk refleksi atas situasi sosial-politik di tanah Papua.

Momentum 1 Desember kerap diperingati oleh sebagian masyarakat Papua sebagai hari bersejarah terkait proklamasi simbolik kemerdekaan pada 1961, masa ketika wilayah Papua berada dalam administrasi Belanda. Di Sorong, sejumlah warga mengikuti aksi damai untuk menyampaikan aspirasi mengenai nasib politik dan kondisi sosial mereka.

Dalam aksi tersebut, beberapa peserta membawa ulang kutipan dari Harian Pengantara—media lokal bersejarah yang terbit pada awal 1960-an, pada masa peralihan dari Belanda menuju pemerintahan Papua. Media itu pernah menurunkan edisi khusus berisi Manifesto Politik Komite Nasional Papua, yang oleh sebagian sejarawan dianggap sebagai dokumen penting mengenai aspirasi penentuan nasib sendiri.

Sejarawan Belanda Pieter Drooglever, dalam karyanya Een Daad van Vrije Keuze (2005), menilai naskah-naskah di media tersebut memberi “jejak penting mengenai gagasan Papua sebagai bangsa yang berbeda”. Namun, interpretasi mengenai dokumen-dokumen itu hingga kini masih menjadi bagian dari perdebatan politik dan sejarah yang lebih luas.

Dalam aksi di Sorong, puisi karya Yuliance Keiya dibacakan oleh perwakilan peserta. Puisi tersebut menyinggung soal pembatasan ruang berekspresi, kesedihan masyarakat, dan harapan atas perubahan. “Tanpa suara, tanpa pilihan. Hanya kesedihan, hanya penindasan,” demikian salah satu bait yang dibacakan.

Keiya, yang dikenal aktif menyuarakan isu-isu kemasyarakatan melalui karya sastra, menggambarkan Papua sebagai tanah kaya namun dihimpit ketidakadilan. Ia menulis tentang mimpi kebebasan, perjuangan, serta kesadaran bahwa sejarah tidak dapat dihapus. “Kau bisa membunuh seorang pejuang, tetapi kau tak bisa membunuh kemerdekaan,” tulisnya dalam salah satu bagian.

Aksi peringatan di Sorong berjalan relatif tertib. Aparat keamanan melakukan penjagaan untuk memastikan kegiatan berlangsung damai. Hingga sore hari, demonstrasi bubar tanpa insiden besar.

Sejumlah tokoh masyarakat yang hadir menilai keberadaan puisi dalam aksi ini menunjukkan bahwa ekspresi budaya tetap menjadi ruang penting bagi warga Papua dalam menyampaikan kritik sosial. “Sastra menjadi bahasa yang tak bisa dibungkam,” ujar salah satu peserta.

Pesan yang muncul dari puisi Keiya menyoroti persoalan kemanusiaan, ketidakadilan, serta harapan generasi muda Papua. Meski demikian, makna puisi itu ditafsirkan beragam oleh peserta aksi. Sebagian melihatnya sebagai cermin kegelisahan sosial, sebagian lain menilainya sebagai bentuk aspirasi moral.

Hingga kini, pemerintah pusat dan daerah masih mengedepankan pendekatan pembangunan, dialog, dan peningkatan kesejahteraan sebagai jalan penyelesaian masalah di Papua. Sementara itu, ekspresi budaya seperti puisi Keiya memberi ruang alternatif bagi masyarakat untuk merekam perasaan dan pengalaman mereka. (Jeri/Red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *