CDC Serukan “Pemuda Perubahan, Bukan Pemuda Rebahan” di Karnipora 2025

SERANG, TirtaNews — Dalam semangat peringatan 97 tahun Sumpah Pemuda, Creative Democracy Center (CDC) menyerukan kebangkitan kesadaran kritis generasi muda lewat pesan yang menggugah: “Pemuda Perubahan, Bukan Pemuda Rebahan.”
Pesan itu disampaikan oleh Irvan Zakaria, perwakilan CDC, dalam ajang Karnipora 2025 yang digelar Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) Provinsi Banten di Kota Serang, akhir pekan lalu. Acara tahunan itu menjadi ruang pertemuan para pengusaha muda, komunitas kreatif, serta organisasi lintas bidang dalam merayakan semangat kebangsaan anak muda.
Di atas panggung utama, Irvan tampil tenang namun penuh tekanan makna. Dalam pidato reflektifnya, ia menyoroti fenomena “pemuda rebahan” yang menurutnya bukan soal posisi tubuh, melainkan soal sikap mental.
“Pemuda rebahan adalah mereka yang memilih diam saat ketidakadilan terjadi, yang merasa cukup hanya dengan berkomentar tanpa bertindak,” ujar Irvan.
“Sedangkan pemuda perubahan adalah mereka yang tidak menunggu sempurna untuk mulai berbuat, karena setiap langkah kecil punya arti besar.”
Kalimat itu sontak menjadi sorotan dan perbincangan di antara peserta. Irvan menegaskan, slogan tersebut bukan sekadar seruan moral, melainkan refleksi atas tantangan zaman yang dihadapi generasi muda — dari budaya instan, kemalasan berpikir, hingga ketergantungan pada dunia digital tanpa arah.
Bagi CDC, semangat perubahan harus berakar pada kesadaran kritis dan empati sosial. Lembaga ini berkomitmen mendorong pendidikan publik, pelatihan kepemimpinan, serta advokasi sosial berbasis etika dan nilai kemanusiaan.
Dalam pidatonya, Irvan juga menyinggung makna Sumpah Pemuda yang, menurutnya, tak boleh berhenti sebagai teks sejarah.
“Tantangan kita bukan lagi penjajahan fisik, tapi penjajahan pikiran,” katanya.
“Di era serbacepat ini, kecepatan informasi kerap mengalahkan kedalaman berpikir. Tapi justru di sinilah peran pemuda diuji — apakah kita hanya ingin jadi penonton di layar, atau pelaku di lapangan?”
Ia menutup pidatonya dengan ajakan sederhana namun kuat: menghidupkan nasionalisme dalam tindakan nyata. “Cinta tanah air bukan diukur dari kata-kata, tapi dari keberanian memperbaiki kehidupan sosial di sekitar kita,” ujarnya.
Karnipora 2025 pun meninggalkan kesan mendalam: semangat muda yang tidak hanya merayakan masa lalu, tetapi menyalakan bara perubahan untuk masa depan. (Az/Red)
